Senin, 21 Juli 2008

Buku

Temen-temen... Baca buku "Pesan dari Murid untuk Guru" yahh.. =)

Selasa, 18 Desember 2007

Mengandalkan Subsidi

Ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerapkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM, hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia merasa keberatan dan mengecam kebijakan itu. Melihat kebijakan ini secara positif, kita harus tahu kalau ada alasan di balik setiap tindakan, begitu pula dengan tindakan pak presiden ini. Kala itu, kenaikan harga BBM dimaksudkan agar subsidi pemerintah bisa dikurangi sehingga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa turun jumlahnya. Satu fakta yang muncul adalah keadaan rakyat Indonesia yang begitu menyedihkan, dimana mereka senantiasa ingin hidup dicukupi oleh negara lewat subsidi-subsidi. Nyatanya, dalam pembangunan suatu bangsa, rakyat adalah komponen penting yang mendukung atau tidak mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah. Perlu dicatat kalau kenaikan harga BBM ini juga diimbangi oleh pemerintahan SBY dengan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang besarnya Rp 100.000,00 per bulan untuk satu kepala keluarga.

Namun nyatanya, lewat pemberitaan televisi saya mengetahui kalau ada penyimpangan BLT yang terjadi. Bayangkan, seorang ibu dari keluarga menengah dengan kalung emas melilit di lehernya diketahui mengambil BLT sebanyak 2 kali untuk keluarganya sehingga ada keluarga miskin yang tidak kebagian. Tindakan semacam ini bisa kita golongkan sebagai survivor act atau tindakan untuk bertahan hidup, namun di sisi lain mereka tidak memperhatikan nasib keluarga lain. Yang penting gue makmur, begitulah kira-kira pikiran mereka. Kemajuan suatu bangsa harus didukung oleh rakyat, namun dalam upaya memajukan negara secara makro ini pemerintahan SBY justru ditekan, banyak rakyat yang berdemonstrasi tanpa mengetahui apa tujuan dari kebijakan itu sendiri. Rakyat pun cenderung antipati terhadap kebijakan yang berorientasi jangka panjang ini. Coba kita bayangkan sendiri, bagaimana kalau Pak SBY, selama beberapa tahun masa kepemimpinannya hanya mencapai prestasi dalam hal menyubsidi BBM bagi rakyat kecil? Keadaan itu tentu tidak seimbang dan selaras dengan cita-cita seorang pemimpin di bangsa yang majemuk ini.

Rakyat seharusnya mau kerja keras, jangan berdiam diri di rumah sehingga setiap potensi rezeki dapat mereka manfaatkan. Kalau hanya berdiam diri dan mengeluh tentang pemerintah, tentu saja tidak akan terjadi apa-apa, malahan kehidupan akan berujung pada kesulitan yang lebih dan lebih lagi. Kehidupan yang maju adalah kehidupan yang mengikuti perkembangan atau dinamis. Kalau hanya statis-statis saja, bisa-bisa Indonesia tersingkir dari percaturan global. Siapa yang mau begitu? Selain itu, pemberian BLT juga sudah cukup membuktikan bahwa pemerintahan SBY tidak serta-merta membuat rakyat kaget, beliau masih memberikan masa penyesuaian sampai rakyat benar-benar sadar kalau hidup itu bukan semata-mata bergantung pada pemerintah, namun terlebih pada daya juang dan semangat baja yang terus terpelihara dalam hati.

Sudah, kita sudahi budaya mengandalkan subsidi terus-menerus dari pemerintah karena kita adalah kesatuan Indonesia yang ingin maju, yang progresif, dan yang bermartabat di mata dunia. Kita harus bekerja maksimal sekarang juga, jangan hanya melihat sisi dari kacamata orang miskin karena di negara sekaliber Amerika Serikat dan China pun masih saja ada penduduk yang miskin. Dan justru di sanalah tugas dari penduduk untuk bangkit dan menyesuaikan diri.

Babak-Belur Gara-Gara Rp 1.000,00

Bacalah kutipan surat kabar ini,
Tito (56), juru kutip retribusi DLLAJ Kota Bogor, menderita luka parah di bagian kepalanya setelah dipukul dengan batu oleh seseorang yang diduga preman, hanya karena menolak menyerahkan uang Rp 1.000,00. saat preman itu minta uang, Minggu (21/10) siang, Tito sedang bertugas di Jalan Bina Marga, Bogor Timur, Kota Bogor. Akibat luka yang dialaminya, Tito harus dirawat di RSU PMI Bogor. Menurut juru kutip retribusi pengemudi angkutan perkotaan (angkot) tersebut, dia menolak memberi uang karena memang pada saat itu belum ada uang yang dikutipnya. Selain itu, pria tersebut minta uang untuk membeli minuman keras. “Saya mencium aroma minuman keras dari mulutnya,” katanya ketika ditemui di ruang IGD RSU PMI. Saat mau dipukul oleh pria yang dipengaruhi alcohol tersebut, Tito sempat melawan. Namun, pria itu segera mengambil sebongkah batu yang ada di sekitarnya, dan Tito pun melakukan hal yang sama. Kedua pria itu saling pukul menggunakan batu. Tetapi sial, pukulan Tito tidak pernah mengenai pria itu. Justru batu yang digenggam pria itu berhasil mengenai kepala Tito hingga berdarah.

Kita renungkan bersama-sama tentang kejadian di atas. Kita sama-sama tahu, berapa besarlah penghasilan juru kutip itu, tentunya bukan jumlah yang menggiurkan. Seorang preman yang mabuk dan “lepas” ke jalanan dengan seenaknya meminta uang, ia tidak tahu kalau orang lain juga susah mendapatkan uang. Nah, kejadian semacam inilah yang diibaratkan seperti tikus menggigit pintu, yaitu ketika pintu yang rusak masih sebagian kecil, memang tidak kelihatan, namun kalau tikus terus-menerus menggigit pintu, maka pintu akan hancur. Negara kita pun demikian. Saat virus-virus kecil berkeliaran di masyarakat, seolah-olah itu menjadi bahan berita semata karena toh tidak menghancurkan kedaulatan bangsa. Namun dari kacamata sosial, tampak jelas bahwa kejadian semacam ini adalah kejahatan yang menimbulkan korban dengan luka cukup serius. Bagaimana kalau seandainya Tito terluka amat parah hingga ajal menjemput?

Hal semacam ini perlu kita perhatikan. Hal semacam ini jelas menghambat kemajuan bangsa karena selain membuat orang malas melirik Indonesia, di dalam tubuh kesatuan bangsa ini pun sudah terjadi konflik intern, yaitu sesama orang susah saling menyusahkan. Bagaimana nasib masyarakat ke depan? Kita tunggu saja bagaimana cara mereka hidup. Namun sekedar saran, kita sebagai anggota masyarakat jangan sampai mau dikasari begitu. Kalau seandainya ada orang mabuk minta Rp 1.000,00, berikan sajalah daripada kita terluka. Setuju?

Berani Bayar 200 Ribu

Suatu siang di bulan puasa, saya baru saja turun dari Bus Transjakarta (Busway) di terminal Tosari, dekat Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Seperti biasa, ketika turun dari Busway pastilah saya harus berjalan melalui jembatan penyeberangan hingga akhirnya bisa turun dan melangkah ke tempat tujuan selanjutnya. Kebetulan pada hari itu saya berencana untuk pergi ke penerbit karena ada urusan. Saat saya turun dari jembatan penyeberangan tersebut, saya bertemu dengan sekelompok tukang ojek, kira-kira ada 6 orang jumlah mereka itu. Sayapun ditawari untuk naik ojek, namun saya menolak dengan halus karena tempat tujuan saya sudah dekat. Ketika saya baru akan beranjak pergi menjauh dari tukang ojek itu, sontak saya dibuat terkejut oleh perkataan mereka yang tidak sopan.
“Eh perek!” kata salah satu tukang ojek dengan suara keras dan sambil tertawa

Saya bingung, mengapa ada ucapan seperti itu? Ternyata ketika saya beranjak pergi, ada dua orang wanita keturunan Tionghua yang berjalan melalui mereka. Saya mengetahui wanita itu keturunan Tionghua karena kulitnya yang putih dan matanya yang sipit, walau saya hanya melihatnya secara sekilas. Kedua wanita tersebut, sejauh pendengaran saya tidak membalas perkataan tukang ojek itu, karena mereka tidak merasa sebagai pelacur. Tidak lama berselang, saya menolehkan kepala karena merasa terkejut. Saya tidak berkata apapun, namun dalam hati saya berpikir, “Kurang ajar sekali tukang ojek itu, terlebih ini bulan puasa.” Selanjutnya, tukang ojek lainnya tidak mau kalah dengan perkataan temannya, iapun berkata sambil tertawa terbahak-bahak,
“Hahaha, puasa gue batal nih liat barang bagus!”

Buset!! Saya entah harus melakukan apa mendengar kedua wanita itu direndahkan. Namun sejauh mereka tidak melakukan pelecehan fisik, saya diam saja karena dari segi jumlah saya kalah dari mereka, lagipula saya tidak mau sok jagoan. Ketika rasa terkejut masih menyelimuti diri saya, saya kembali mendengar tukang ojek lainnya berkata,
“Gimana Neng? Gue sih berani bayar 200 ribu semalem sama lu!” diiringi tawa oleh teman-temannya.

Jujur saja, saya muak melihat mereka semua. Selain ini bulan puasa dan mereka berpuasa, mereka juga sudah merendahkan derajat wanita. Para tukang ojek itu ada yang wajahnya codet bekas luka, ada yang ompong dan berkulit hitam gosong, dan ada pula yang berambut keriting tak beraturan, namun sama sekali tidak bisa menyeimbangkan kejelekan fisik mereka dengan perilaku yang baik. Kalau secara fisik kurang rupawan namun berkelakuan baik, itu masih bisa diterima. Namun kalau secara fisik jelek dan perilakunya lebih jelek lagi, bagaimana mereka bisa dianggap manusia? Mereka malah lebih rendah dari binatang, melihat usia mereka yang saya kira tidak kurang dari 30 tahun, sebuah angka yang notabene haruslah menjadi jaminan pengetahuan tata-krama. Kalau sudah menghadapi masalah semacam ini, saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya mengimbau kepada seluruh wanita agar lebih berhati-hati dalam keseharian, dan ingat agar jangan pernah berjalan sendirian, walau di siang hari sekalipun karena ancaman dari makhluk-makhluk rendah semakin banyak saja. Bulan puasa saja sudah tidak mampu membendung kejelekan mereka, bagaimana kalau di bulan-bulan biasa? Untuk tukang ojek yang mencoreng wajah Indonesia itu, ingatlah selalu kalau semua manusia dilahirkan di dunia ini untuk merasa aman, bukan untuk merasa dilecehkan oleh tindakan-tindakan kalian yang tidak berpendidikan.

Jalanan Ini Punya Babe Gue!!

Saya punya hobi mengelilingi kota, terutama dengan kakak saya. Kami berdua sering mengendarai mobil dan mengunjungi tempat-tempat seru di Jakarta. Setiap kali pergi, saya selalu membawa kertas dan pensil untuk mencatat kejadian-kejadian penting yang menjadi bahan inspirasi buat saya dalam menulis. Satu masalah yang selalu saya temui di jalanan adalah perilaku orang-orang yang tidak tahu dimana mereka berada. Bayangkan saja bagaimana seorang anak muda berusia 20an tahun dengan santainya berjalan di tengah jalan besar sementara kami mengklakson dan ia tidak menghiraukan. Saya tahu, mayoritas masyarakat di DKI Jakarta, terutama yang tersebar di jalan-jalan adalah pribumi asli. Namun apakah itu menjadi jaminan bahwa mereka boleh seenaknya di jalanan? Kalau seandainya mereka tertabrak karena kesalahan mereka sendiri, saya jamin pengendara mobil, apalagi seorang keturunan Tionghua pasti dikasari dan dimaki-maki, selain dimintai uang ganti rugi dalam jumlah besar, padahal ia tidak bersalah.

Tengok saja bagaimana kelakuan sopir angkot di jalan. Mereka itu memiliki kelakuan yang amat seenaknya. Mereka tidak menghiraukan pengendara lain, dan dengan santainya bisa memberhentikan angkot mereka dimana saja mereka mau. Kalau ada kejadian, dalam arti kecelakaan karena masalah ini, apakah para sopir angkot mau disalahkan? Kita bisa jawab sendiri, mereka tentu saja tidak mau, malahan mereka menuding balik. Ada lagi kasus segerombolan anak-anak kecil yang bermain seenaknya di jalanan sementara mereka tidak mengetahui kalau ada risiko besar yang menghantui mereka, yaitu kecelakaan. Dalam hal ini, siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Jawabannya adalah orang tua mereka sendiri. Orang tua mereka dengan tenangnya membiarkan anak-anak bermain di jalanan, dan terkadang malah berharap anaknya ditabrak mobil sehingga mendapatkan uang ganti rugi. Kalau sampai anaknya mati, yah mati saja, toh masih ada banyak anak lainnya. Beginilah mental orang Indonesia, terutama yang menetap di perkotaan. Saya bukan memfitnah mereka, namun saya mengalami sendiri bagaimana keadaan lalu-lintas yang sering diwarnai dengan kecelakaan-kecelakaan bodoh yang disebabkan kelalaian manusia, saya saksikan sendiri bagaimana ricuhnya keadaan lalu-lintas yang diwarnai oleh tindakan-tindakan konyol dan tak bertanggung jawab.

Sudah selayaknya para orang tua lebih memperhatikan anaknya. Jangan sampai anak-anak dibiarkan tumbuh dalam pergaulan jalanan yang tidak selamanya baik, yang malah cenderung berisi hal-hal negatif. Kalau yang ada sekarang berlangsung terus-menerus, saya justru mencium adanya indikasi dari para orang tua tidak bertanggung jawab itu untuk membiarkan anak-anaknya bergaul di jalanan dan mencari uang dengan mudah, seperti mencopet di lampu merah ataupun menjadi penjahat jalanan, yang penting banyak uang. Muka bangsa Indonesia akan tercoreng sekali di mata dunia bila ada warga negara asing yang menjadi korban. Hanya karena tindakan “parasit” beberapa oknum, bangsa kita menjadi jelek.

Dan dari kejelekan yang satu biasanya akan muncul kejelekan-kejelekan lainnya. Jadi untuk para orang tua, perhatikanlah anak-anak kalian dengan lebih cermat, rawatlah mereka dengan baik, dan ajarkanlah kepada mereka pendidikan budi pekerti yang baik, karena lewat pendidikan budi pekerti yang baik, seseorang akan disenangi sehingga pada akhirnya bisa berkarya dan menghasilkan uang halal lewat bantuan orang lain. Kalau sudah begitu, tiket untuk keluar dari kemiskinan sudah semakin dekat. Berjuanglah!

Solusi Terdepan Memajukan Bangsa

Jujur saja, kalau orang Indonesia tidak mempunyai niat yang kuat dari dalam hati untuk berubah menjadi lebih baik, kemajuan bangsa tidak akan pernah tercapai. Namun karena saya percaya bahwa di kegelapan sekalipun ada setitik cahaya, saya harus mengatakan kalau seandainya kita mau maju, kita harus menghilangkan budaya kekerasan dan “senior-junior” dalam segala sudut kehidupan, baik dalam kehidupan sosial biasa maupun di berbagai eselon lainnya. Namun ini bukan berarti kita boleh bertindak kurang ajar terhadap yang lebih tua. Sebisa mungkin sikap toleran kita kembangkan, kita jadikan bahasa sehari-hari supaya perdamaian bisa terwujud antarmanusia. Gaya kehidupan yang lu lu gue gue juga harus kita pandang sebagai penghalang kemajuan, karena itulah kalau boleh, kita sepantasnya peduli dengan sesama kita. Budaya permisif dan acuh tak acuh memang sudah merasuk ke dalam sendi-sendi orang Indonesia, namun kalau kemauan diteguhkan, niat dikuatkan, kita akan mampu untuk melakukannya, kita akan maju.

Kedua, kita juga harus sadar diri. Jangan cuma bisa iri hati sedangkan kita sendiri tidak berbuat apa-apa. Ingat, sirik atau iri hati adalah tanda tak mampu. Apakah kita tidak malu pada diri kita sendiri kalau terus-menerus begini? Kalau 200 juta penduduk di Indonesia, atau setidaknya 50% saja mau kerja keras, bangsa kita akan menjadi bangsa yang tidak terkalahkan di dunia. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan ratusan juta orang di negeri ini dalam membangun segala sektor. Namun sayangnya, justru yang selama ini salah adalah kita kurang mau bahkan tidak mau kerja keras, kita mau cari yang gampang saja. Kalau bertahan hidup dari segi ekonomis itu membutuhkan perjuangan, kita pun dituntut untuk berusaha, bukan berdiam diri. Kalau sama sekali tidak ada usaha, siap-siap saja untuk menderita. Toh kesuksesan atau keberhasilan itu bukan ditentukan takdir, tapi ditentukan oleh upaya-upaya kita. Sikap anarkis juga harus disorot. Kenapa kita ini mudah sekali terprovokasi? Kenapa kita tidak bisa menyelesaikan masalah baik-baik? Apa karena kita kelaparan dan penuh iri hati sehingga ada masalah sedikit saja langsung main pukul dan main bakar?

Untuk masalah HAM juga demikian. Selama ini dunia internasional gigih memperjuangkan HAM. Namun sebagai bangsa beradab di dunia, mengapa kita tidak bisa menghargai HAM orang lain? Mengapa kita selalu merasa bahwa kebebasan berekspresi, kebebasan berkarya orang lain, terutama untuk warga keturunan Cina adalah salah? Mengapa kita masih saja menganggap perbedaan sebagai suatu kejahatan? Tragedi Mei 1998 sudah cukup untuk mewakili jerit tangis Indonesia, kejadian tersebut sama sekali tidak ada sisi positifnya meski banyak pernyataan populer bahwa segala macam hal dapat dilihat dari 2 sisi, namun untuk masalah ini yang ada hanyalah kebiadaban dan kebiadaban. Apakah kita berpikir bahwa kasus yang kini tidak dibahas secara lugas ini sudah selesai? Nyatanya belum. Masih ada luka batin mendalam bagi seluruh korban.

Jujur saja, sekarang keadaannya sudah kepalang basah, tragedi itu sudah menjadi masa lalu kelam yang tak bisa diubah. Menghapus dosa akibat perbuatan keji tersebut adalah mustahil. Satu-satunya hal yang bisa kita perbuat adalah berjanji untuk tidak mengulangi kejahatan HAM selama-lamanya. Tunjukkan bahwa kita, tanpa kecuali berkomitmen untuk menegakkan HAM seperti yang kita seru-serukan dalam demonstrasi pada umumnya. Satu hal lagi, kita juga harus tahu terima kasih. Janganlah kita hanya bisa menuntut, kita harus saling mengerti karena manusia adalah unik adanya. Kalau kita tahu berterima kasih, keuntungannya amat banyak dan kita bisa menjadi makhluk yang lebih bahagia. Hati bersih, pikiran bersih? Itulah yang harus kita capai. Mudah-mudahan, untuk ke depannya dunia pendidikan dan sosial-kemasyarakatan di Indonesia bisa dipenuhi dengan rasa saling mengerti, menghargai, dan menomorsatukan konsensus yang baik. Biarkanlah geng-gengan tetap ada, namun kita harus ubah arah dan tujuan mereka supaya menjadikan perdamaian sebagai dasar.

Kalau judulnya sudah damai, bisa-bisa malah geng-gengan tersebut membantu tugas kepolisian untuk menjaga keamanan negara. Dan terakhir untuk kasus KDRT, kaum hawa dalam hal ini harus lebih selektif dalam memilih pasangan hidup, jangan mudah termakan janji-janji manis. Maaf bila saya keluar garis sedikit dari topik sosial, cinta itu sama sekali tidak dibuktikan lewat pukulan penuh amarah. KDRT harus kita selesaikan karena pada dasarnya pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk hidup dalam kemerdekaan.

Tidak Tahu Terima Kasih

Beberapa waktu lalu saya menonton acara kriminal Buser yang ditayangkan SCTV. Dari tayangan tersebut, saya merasa terkejut bukan main. Bukan karena kasus perampokan atau apa-apa, namun saya melihat satu orang pria dengan wajah sampahnya sedang mendekam di tahanan akibat kasus perkosaan. Yang parahnya, perempuan yang menjadi korbannya adalah putri dari seorang sahabatnya yang telah berbaik hati membiarkan pelaku tinggal serumah dengan mereka. Jadi singkat cerita, si pelaku itu tidak punya tempat tinggal karena sedang meninggalkan kampung halaman dan mengadu nasib di kota. Nah, pada saat sahabat pelaku tersebut berniat baik untuk membantu memberikan tempat berteduh, tak disangka perbuatan biadab dijadikan ucapan “terima kasih”. Sungguh aneh dan biadab orang seperti itu. Bayangkan saja, air susu bukan saja dibalas dengan air tuba, namun air susu dibalas dengan air berisi racun tikus, air keras, unsur kimia berbahaya, dan radioaktif sehingga sungguh-sungguh “membunuh”.