Sektor pendidikan yang diharapkan dapat melahirkan manusia-manusia Indonesia berkualitas harus dinodai dengan adanya kejahatan kemanusiaan yang kembali terulang. Kali ini, sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) bernama SMA 34 yang terletak di Jakarta-Selatan menyerbu pemberitaan di media massa karena sebuah sensasi yang hebat bila dipandang oleh orang-orang yang konyol dan tidak bertanggung jawab. Di SMA tersebut, ada sebuah geng yang sudah terkenal dari satu angkatan ke angkatan selanjutnya. Geng tersebut bukanlah perkumpulan anak muda yang berguna dan membangun citra positif. Mereka sering meminta uang kepada “korban” mereka dan tanpa segan mereka menghajar korban hingga luka-luka.
Kasus terakhir yang mengarah kriminal menimpa Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15) yang menderita patah tulang akibat penganiayaan anggota geng di SMA 34. Sah-sah saja bergabung dalam kelompok geng bila tujuannya adalah untuk menambah teman, namun kalau geng itu digunakan untuk jadi jagoan dan melecehkan orang lain, meski dilakukan oleh anak-anak SMA, kasus ini dapat ditindak layaknya perbuatan kriminal karena jelas berbenturan dengan hukum. Kalau boleh jujur, sebagai seorang pelajar, saya juga menemukan banyaknya teman-teman saya yang dilecehkan dan dijadikan bulan-bulanan, namun untungnya itu hanya digunakan untuk bercanda dan tidak melibatkan fisik sama sekali. Namun tindakan seperti ini pun harus dibuang jauh-jauh karena bisa mengusik ketenangan orang yang bersangkutan untuk belajar dan menimba ilmu di sekolah. Dalam lingkup sekolah, pelajar-pelajarlah yang bisa mencegah terjadinya penyimpangan dan membuat perubahan positif, di luar guru dan kepala sekolah sendiri. Dan untuk belajar dari pengalaman pahit seperti kasus SMA 34 ini, kita semua harus peka untuk mengamati dan mengarahkan ke arah yang benar karena sesungguhnya hakekat dari pendidikan di sekolah adalah mencerdaskan kehidupan bangsa lewat manusia-manusianya yang manusiawi, bukan yang malah brutal. Ingat, dengan pergaulan yang sehat di sekolah, kita bisa memupuk perasaan sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Dan kalau sudah begitu, apa yang kita harapkan berbuah dari pendidikan akan nyata berbuah. Namun kalau kita tidak bisa menerapkannya, jangan harap akan ada kemajuan di bangsa kita. Pembangunan bangsa tidak hanya perlu dana, namun perlu juga mental yang kokoh dari masyarakat.
Selasa, 18 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Ini dunia PENGAJARAN atau PENGHAJARAN? Mengapa degradasi moral terus-menerus menimpa bangsa ini?
Posting Komentar