Saya menuliskan topik ini untuk menyatakan pembelaan saya terhadap semua korban kekejaman tragedi kemanusiaan yang mencoreng wajah Indonesia ini. Pada paruh awal bulan Mei tahun 1998, kericuhan disertai anarkisme mulai merebak secara nasional dan tampak terstruktur. Dimulai dari daerah Sumatera dimana kekerasan dalam skala kecil mulai memamerkan dirinya, dan akhirnya menjalar sampai ke ibukota negara, DKI Jakarta. Kasus demonstrasi mahasiswa saya akui adalah sebuah momentum mencapai integrasi iklim demokrasi yang saat itu amat diserukan. Sejauh demonstrasi tersebut aman terkendali, tentunya keadaan tidak akan beranjak pada kehancuran seperti yang kita ketahui bersama. Namun hal yang ditakutkan adalah adanya provokator yang memanipulasi para mahasiswa untuk bertindak anarkis dan memicu warga sipil untuk ikut dalam “aksi brutal”. Jujur saja, saya merasa tersinggung untuk meratapi kenyataan yang mengerikan tersebut. Kasus perampokan besar-besaran, pembakaran mobil milik orang lain, dan pemerkosaan terhadap wanita-wanita keturunan Cina (Tionghua) merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak termaafkan.
Belajar lewat pengalaman pribadi paman saya yang ketika itu terjebak dalam situasi kerusuhan tersebut, bolehlah saya membagikan pengalaman ini di sini. Kala itu, paman saya untungnya tidak terjebak di lalu-lintas jalan protokol yang notabene dikuasai massa dalam jumlah besar. Paman saya dengan mobil yang ditumpanginya dicegat di sebuah jalan biasa yang keadaannya juga ricuh dan tak terkendali. Kala itu, untungnya mobil paman saya dikendarai oleh seorang sopir bersuku pribumi asli sehingga mereka tidak dikasari. Paman saya merasakan ketakutan yang begitu dalam namun ia sempat bersyukur karena Tuhan masih melindunginya dari bahaya. Saya berpikir bagaimana kalau paman saya yang mengendarai mobil itu. Mungkin saja ia akan mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Ada lagi kesaksian dari orang tua teman saya yang memutuskan untuk pergi ke luar kota karena merasa tidak aman terus-menerus berada di Jakarta. Sepanjang perjalanan, orang tua teman saya tersebut tiada hentinya berdoa dan memeluk anaknya yang masih kecil untuk saling menghangatkan. Jujur, ketakutan dan kekhawatiran tidak terelakkan, apalagi teman saya masih duduk di kelas 2 SD pada saat tragedi tersebut terjadi. Pada saat mobil yang mereka tumpangi serasa melewati jalur yang benar, mereka secara tidak sengaja bertemu kerumunan “perusuh” biadab, maka secara tiba-tiba timbul satu inisiatif dari orang tua teman saya itu. Daripada mobilnya dirusak dan mereka dikasari, ia memilih untuk membuang uang Rupiah berjumlah ratusan ribu lewat kaca jendela. Bisa saya rasakan bagaimana perasaan seorang ibu kala itu menghadapi situasi antara ya dan tidak, juga antara selamat atau tidak. Namun untungnya, para perusuh yang berwajah seperti besi berkarat itu mudah saja terkecoh oleh Rupiah yang bersinar. Apa ini karena mungkin mereka belum pernah melihat uang dalam jumlah besar? Apapun itu, dari sini kita bisa melihat kalau para pelaku dalam kerusuhan Mei 1998 adalah orang-orang yang “tidak sekolah” dan tidak intelek.
Kasus yang tidak terlupakan adalah saat para perusuh secara besar-besaran menjarah pusat perbelanjaan Slipi Jaya, Jakarta-Barat. Mereka berusaha membobol pintu masuk namun ternyata tidak 100% mereka berhasil. Mereka hanya berhasil membuat sedikit ruang antara pintu dan ruangan-ruangan di Slipi Jaya tersebut. Dengan brutal dan tanpa rasa kemanusiaan, mereka mengambil apa saja seolah dalam keadaan “SEMUA BARANG GRATIS”, mereka tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan warga keturunan Cina yang mati-matian mengumpulkan uang untuk membangun usaha. Namun di balik kebusukan itu, para perusuh yang beraksi di Slipi Jaya ini kena batunya. Entah siapa, pokoknya ada seseorang yang mengunci pintu Slipi Jaya tersebut dan membakar dengan penuh kemarahan seisi pusat perbelanjaan itu sehingga “tawa di atas penderitaan orang lain” yang mereka miliki sejenak berubah menjadi “tangis ketakutan” menghadapi kenyataan yang mengerikan ini. Apakah ini merupakan suatu balasan yang adil? Tentu saja belum. Masih banyak sekali kebusukan perusuh yang seolah berkata, “Wahai negeri Tiongkok, lihatlah keadaan manusia-manusia yang serumpun denganmu di Indonesia.”
Tidak cukup sampai di situ saja, lewat sebuah rekaman video yang saya dapatkan dari negara Taiwan, saya melihat betapa kejamnya para perusuh yang dengan begitu ringannya menjungkirbalikkan mobil, menghantam mobil dengan kapak, juga merampas toko-toko yang memiliki persediaan barang. Saya juga melihat betapa banyaknya mayat manusia yang sudah gosong karena dibakar, saya juga melihat bagaimana wajah-wajah bodoh para perusuh yang justru merasa aji mumpung lewat kejadian ini. Fakta menunjukkan bahwa masyarakat keturunan Cina yang paling banyak menjadi korban. Saya mencium adanya aroma iri hati dari kaum pribumi yang sudah “terjajah” di negerinya sendiri sejak zaman penjajahan Belanda.
Dari dulu, masyarakat pribumi selalu berada di lapisan bawah sedangkan masyarakat keturunan Cina menduduki posisi yang strategis dalam strata kemasyarakatan karena mereka mampu membantu pemerintah Indonesia untuk mendongkrak kemajuan ekonomi lewat perdagangan yang begitu ampuh menyerap tenaga kerja dan menghasilkan pajak. Salahkah bila saya mengatakan kenyataan ini? Harus saya akui dari hati yang terdalam kalau masyarakat keturunan Cina selalu berusaha keras untuk mencukupi kehidupannya dari masa ke masa. Mereka tidak pernah mau berpangku tangan karena malu terhadap orang lain di sekitar mereka, sampai-sampai kulit jeruk saja mereka jadikan sebagai manisan yang bernilai ekonomis. Kelihatan bukan?
Dan satu kejahatan kemanusiaan yang sungguh-sungguh biadab adalah kasus pemerkosaan terhadap wanita keturunan Cina. Saya ingin tanya, sebenarnya warga keturunan Cina punya salah apa hingga diperlakukan seperti itu? Apa karena mereka lebih berhasil dan lebih pandai? Atau bagaimana? Apakah para perusuh pantas untuk menelanjangi wanita-wanita keturunan Cina, menyuruh mereka menari bugil untuk mempermalukan diri sendiri, menggagahi mereka dengan brutal, lalu membunuh mereka dengan keji? PANTASKAH? Sebaiknya mulai sekarang dan seterusnya, kita semua warga Indonesia menggunakan otak kita ketimbang hasrat sesaat kita yang bisa mencelakakan orang lain. Bayangkan saja bagaimana bila kita berada di posisi korban, bayangkan saja bagaimana rasanya cita-cita kita dihancurkan oleh orang-orang tolol dan seperti sampah berjalan itu. Berkali-kali sudah saya berdebat dengan masyarakat pribumi, dan ternyata dugaan saya benar, mereka cenderung emosi bila kalah dalam berbicara, mereka juga menganggap dirinya sebagai yang terbaik dan merasa tidak perlu belajar lagi. Kalau sudah begini, Indonesia tidak akan maju sampai kapanpun. Di bawah ini saya sajikan sebuah kutipan mengenai kejahatan kemanusiaan ini dari RADIO NEDERLAND, Belanda yang juga meletakkan kepedulian mereka kepada para korban.
Belajar lewat pengalaman pribadi paman saya yang ketika itu terjebak dalam situasi kerusuhan tersebut, bolehlah saya membagikan pengalaman ini di sini. Kala itu, paman saya untungnya tidak terjebak di lalu-lintas jalan protokol yang notabene dikuasai massa dalam jumlah besar. Paman saya dengan mobil yang ditumpanginya dicegat di sebuah jalan biasa yang keadaannya juga ricuh dan tak terkendali. Kala itu, untungnya mobil paman saya dikendarai oleh seorang sopir bersuku pribumi asli sehingga mereka tidak dikasari. Paman saya merasakan ketakutan yang begitu dalam namun ia sempat bersyukur karena Tuhan masih melindunginya dari bahaya. Saya berpikir bagaimana kalau paman saya yang mengendarai mobil itu. Mungkin saja ia akan mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Ada lagi kesaksian dari orang tua teman saya yang memutuskan untuk pergi ke luar kota karena merasa tidak aman terus-menerus berada di Jakarta. Sepanjang perjalanan, orang tua teman saya tersebut tiada hentinya berdoa dan memeluk anaknya yang masih kecil untuk saling menghangatkan. Jujur, ketakutan dan kekhawatiran tidak terelakkan, apalagi teman saya masih duduk di kelas 2 SD pada saat tragedi tersebut terjadi. Pada saat mobil yang mereka tumpangi serasa melewati jalur yang benar, mereka secara tidak sengaja bertemu kerumunan “perusuh” biadab, maka secara tiba-tiba timbul satu inisiatif dari orang tua teman saya itu. Daripada mobilnya dirusak dan mereka dikasari, ia memilih untuk membuang uang Rupiah berjumlah ratusan ribu lewat kaca jendela. Bisa saya rasakan bagaimana perasaan seorang ibu kala itu menghadapi situasi antara ya dan tidak, juga antara selamat atau tidak. Namun untungnya, para perusuh yang berwajah seperti besi berkarat itu mudah saja terkecoh oleh Rupiah yang bersinar. Apa ini karena mungkin mereka belum pernah melihat uang dalam jumlah besar? Apapun itu, dari sini kita bisa melihat kalau para pelaku dalam kerusuhan Mei 1998 adalah orang-orang yang “tidak sekolah” dan tidak intelek.
Kasus yang tidak terlupakan adalah saat para perusuh secara besar-besaran menjarah pusat perbelanjaan Slipi Jaya, Jakarta-Barat. Mereka berusaha membobol pintu masuk namun ternyata tidak 100% mereka berhasil. Mereka hanya berhasil membuat sedikit ruang antara pintu dan ruangan-ruangan di Slipi Jaya tersebut. Dengan brutal dan tanpa rasa kemanusiaan, mereka mengambil apa saja seolah dalam keadaan “SEMUA BARANG GRATIS”, mereka tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan warga keturunan Cina yang mati-matian mengumpulkan uang untuk membangun usaha. Namun di balik kebusukan itu, para perusuh yang beraksi di Slipi Jaya ini kena batunya. Entah siapa, pokoknya ada seseorang yang mengunci pintu Slipi Jaya tersebut dan membakar dengan penuh kemarahan seisi pusat perbelanjaan itu sehingga “tawa di atas penderitaan orang lain” yang mereka miliki sejenak berubah menjadi “tangis ketakutan” menghadapi kenyataan yang mengerikan ini. Apakah ini merupakan suatu balasan yang adil? Tentu saja belum. Masih banyak sekali kebusukan perusuh yang seolah berkata, “Wahai negeri Tiongkok, lihatlah keadaan manusia-manusia yang serumpun denganmu di Indonesia.”
Tidak cukup sampai di situ saja, lewat sebuah rekaman video yang saya dapatkan dari negara Taiwan, saya melihat betapa kejamnya para perusuh yang dengan begitu ringannya menjungkirbalikkan mobil, menghantam mobil dengan kapak, juga merampas toko-toko yang memiliki persediaan barang. Saya juga melihat betapa banyaknya mayat manusia yang sudah gosong karena dibakar, saya juga melihat bagaimana wajah-wajah bodoh para perusuh yang justru merasa aji mumpung lewat kejadian ini. Fakta menunjukkan bahwa masyarakat keturunan Cina yang paling banyak menjadi korban. Saya mencium adanya aroma iri hati dari kaum pribumi yang sudah “terjajah” di negerinya sendiri sejak zaman penjajahan Belanda.
Dari dulu, masyarakat pribumi selalu berada di lapisan bawah sedangkan masyarakat keturunan Cina menduduki posisi yang strategis dalam strata kemasyarakatan karena mereka mampu membantu pemerintah Indonesia untuk mendongkrak kemajuan ekonomi lewat perdagangan yang begitu ampuh menyerap tenaga kerja dan menghasilkan pajak. Salahkah bila saya mengatakan kenyataan ini? Harus saya akui dari hati yang terdalam kalau masyarakat keturunan Cina selalu berusaha keras untuk mencukupi kehidupannya dari masa ke masa. Mereka tidak pernah mau berpangku tangan karena malu terhadap orang lain di sekitar mereka, sampai-sampai kulit jeruk saja mereka jadikan sebagai manisan yang bernilai ekonomis. Kelihatan bukan?
Dan satu kejahatan kemanusiaan yang sungguh-sungguh biadab adalah kasus pemerkosaan terhadap wanita keturunan Cina. Saya ingin tanya, sebenarnya warga keturunan Cina punya salah apa hingga diperlakukan seperti itu? Apa karena mereka lebih berhasil dan lebih pandai? Atau bagaimana? Apakah para perusuh pantas untuk menelanjangi wanita-wanita keturunan Cina, menyuruh mereka menari bugil untuk mempermalukan diri sendiri, menggagahi mereka dengan brutal, lalu membunuh mereka dengan keji? PANTASKAH? Sebaiknya mulai sekarang dan seterusnya, kita semua warga Indonesia menggunakan otak kita ketimbang hasrat sesaat kita yang bisa mencelakakan orang lain. Bayangkan saja bagaimana bila kita berada di posisi korban, bayangkan saja bagaimana rasanya cita-cita kita dihancurkan oleh orang-orang tolol dan seperti sampah berjalan itu. Berkali-kali sudah saya berdebat dengan masyarakat pribumi, dan ternyata dugaan saya benar, mereka cenderung emosi bila kalah dalam berbicara, mereka juga menganggap dirinya sebagai yang terbaik dan merasa tidak perlu belajar lagi. Kalau sudah begini, Indonesia tidak akan maju sampai kapanpun. Di bawah ini saya sajikan sebuah kutipan mengenai kejahatan kemanusiaan ini dari RADIO NEDERLAND, Belanda yang juga meletakkan kepedulian mereka kepada para korban.
* * *
Berikut kutipan aslinya:
Indonesian from Chinese ethnic and women are helpless and easiest targets. Tens or perhaps even hundreds of Indonesian Chinese ethnic women had became victims of sexual harassment and rape which took place while their homes or shops were torched and looted during May 13 and 14 riot in Jakarta. So evil the perpetrator were, it seemed that they had lost their humanity.
The victims were not only harrassed or raped, but some also strangled and killed. Some endures very serious mental disorder. Considering victims trauma and fear to reveal what had happened, volunteer workers took proactive actions, by searching for victims, visiting hospitals, and establishing hotlines. So far, this team had identified about 50 cases. Each day, around two dozens women called their hotlines. Below are some harrassment and rape cases identified by Women Division, the joint group of volunteers from various caring organizations, as told by their coordinator, Ita Nadia.
Indonesian from Chinese ethnic and women are helpless and easiest targets. Tens or perhaps even hundreds of Indonesian Chinese ethnic women had became victims of sexual harassment and rape which took place while their homes or shops were torched and looted during May 13 and 14 riot in Jakarta. So evil the perpetrator were, it seemed that they had lost their humanity.
The victims were not only harrassed or raped, but some also strangled and killed. Some endures very serious mental disorder. Considering victims trauma and fear to reveal what had happened, volunteer workers took proactive actions, by searching for victims, visiting hospitals, and establishing hotlines. So far, this team had identified about 50 cases. Each day, around two dozens women called their hotlines. Below are some harrassment and rape cases identified by Women Division, the joint group of volunteers from various caring organizations, as told by their coordinator, Ita Nadia.
While workers were heading home after work on a bus, passangers were sorted out. The Chinese ones were forced to leave the bus, undressed and walked in line. Then they were led to grass plain where they were sorted out again. Good looking ones were raped.
Meanwhile the rest were forced to walk around naked. Another modus, Chinese women were undressed by a crowd on the street, then groped. We had found torn nipples and bruises all over the body. Then there are bank employees. Ten men entered a bank and closed it. The Chinnese employees were forced to dance around naked. Also there's three daughters of a poor Chinese family were raped. They were 10 to 18 years old, raped by seven men somewhere in North/West Jakarta.
Next is a family which the victims' elder sister reported to Ita Nadia that her two sisters were raped in the third floor of their home by seven men. After that, the two girls were pushed into the burning second and first floor, to their deaths. Those were some cases. Other cases, usually the women were rapen and strangled. But there's also some that commit suicide when raped. The victims were not only raped vaginally, but also anal, followed by vagina mutilation. It happened so sistematically, it can't be done by ordinary people. Politically, I wanted to say these were done to show," If you want reform, this is a price you pay. And it is by sacrificing Chinese ethnic, in this case women were targeted to build up terror or fear in society to intimidate people. So they pick Chinese ethnic and women and non Moslem because they are the weakest."
Volunteer team for humanity, Women Division, were in fact a bigger volunteer team for humanity led by Romo (Father) Sandyawan. The team had identified riot death toll up to 1,333. Now we are really angry because women had became target or object to intimidate people using sexual violence. This is a state violence.
RADIO NEDERLAND: What message would you like to relay to victims which untill now have not or dare not reveal what had happened to them? ITA NADIA: Please, don't be afraid because breaking the silence is building awareness. Victims can directly called our hotline 021-790 2xxx or 021-790 2xxx. We will keep victims and informants anonymous. And to the world, support us. Support in campaign to condemn what had happend. Above all else, they were discriminated, previously discriminated by the government, and now they are being sacrificed.
Secara garis besar, ini terjemahannya:
Penduduk keturunan Cina dan terutama wanita tidak tertolong dan merupakan target yang termudah. Puluhan bahkan ratusan dari mereka telah menjadi korban pelecehan seksual dan pemerkosaan yang mengambil tempat di rumah atau toko mereka yang dibakar dan dijarah selama kerusuhan 13-14 Mei di Jakarta, jadi iblis telah merasuki diri pelaku kejahatan dan mereka telah kehilangan rasa kemanusiaan. Korban-korban tidak hanya dilecehkan dan diperkosa, namun ada juga yang dibunuh. Beberapa diantara mereka mengalami gangguan mental yang serius.
Menyadari bahwa korban merasa trauma dan takut untuk mengungkap apa yang telah terjadi, relawan mengambil langkah pro-aktif dengan mencari korban-korban, mengunjungi rumah sakit, dan menyediakan hot-line/jalur telepon. Sejauh ini, tim ini telah mengidentifikasikan sekitar 50 kasus. Per hari, sekitar 2 lusin wanita menelepon. Di bawah ini adalah kasus-kasus yang telah teridentifikasi oleh sebuah organisasi sosial wanita. Dalam perjalanan pulang selepas kerja, satu wanita etnis Cina dipaksa meninggalkan bus dalam keadaan tanpa busana dan berjalan. Lalu mereka akan dibaringkan dan diperkosa. Ada juga kasus seorang karyawati bank yang dipaksa menari bugil dan diperkosa oleh 10 orang pria.
Juga ada 3 anak perempuan berusia 10-18 tahun yang diperkosa oleh 7 pria di Jakarta. Selanjutnya adalah 2 kakak-beradik yang menjadi korban perkosaan di lantai 3 rumahnya oleh 7 orang pria. Setelah itu, mereka berdua dibawa ke lantai 2 dan 1 untuk dibakar hingga tewas. Ada juga kasus lain saat beberapa wanita dicekik dan diperkosa, beberapa dari mereka memutuskan untuk bunuh diri saat diperkosa. Korban-korban ternyata tidak hanya diperkosa dengan kegiatan seksual biasa, namun mereka juga dipaksa melakukan anal-seks diikuti dengan pemotongan vagina. Ini terjadi dengan amat sistematis dan tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. Korban jiwa dari kericuhan ini diperkirakan berjumlah 1.333 orang dan bisa terus bertambah.
* * *
Bisa kita lihat sendiri bagaimana kebusukan perusuh di Indonesia yang jelas-jelas sudah mencorengkan arang di muka bangsa, terlebih menorehkan sebuah luka terdalam bagi korban-korban dan keluarga mereka. Betapa rendahnya para perusuh yang tega melakukan hal keji seperti itu layaknya manusia tanpa otak. Saya hanya berbicara menurut fakta dan tidak mau menutup-nutupi kebencian saya lewat kata-kata manis, saya hanya ingin mencoba berterus terang karena saya tahu kalau banyak orang yang sebenarnya ingin berterus terang namun tidak berani. Tindakan pelecehan terhadap seorang manusia yang perusuh lakukan mencerminkan kebodohan dan ketertinggalan mental dari orang Indonesia dari bangsa-bangsa lain yang sudah jauh berada di garis depan.
Dari dalam negeri, kita juga mempunyai laporan yang terkait. Begini isinya,
Bernas - Kamis, 09 Juli 1998
Yogya, Bernas Pemerkosaan terhadap perempuan keturunan Cina tidak hanya terjadi bersamaan dengan kerusuhan 13-14 Mei di Jakarta, melainkan terus berlanjut pada masa-masa berikutnya. Kasus terakhir dengan pola sama, tercatat terjadi pada 20 Juni dan 2 Juli 1998. Selain itu, tampak pula upaya-upaya untuk membungkam, meneror, bahkan menghilangkan korban-korban perkosaan itu, agar tidak memberi kesaksian kepada publik. Salah satu korban, bahkan sempat dicatat identitasnya dan diintimidasi agar tidak buka mulut. Fakta ini dikemukakan Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Romo Sandyawan Sumardi SJ, yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Sandy, dalam perbincangan terbatas di Universitas Sanata Dharma, Rabu (8/7). Kepadanya pula, para korban meminta pendampingan, untuk meringankan beban jiwanya atas musibah itu.
"Tanggal 2 Juli lalu sekitar pukul 13.00 siang, di Sunter Hijau, ada seorang gadis mahasiswa Untar, dari suku Tionghoa diperkosa di tempat kosnya oleh serombongan lelaki berbadan tegap. Waktu itu ia sedang istirahat siang sendirian. Tapi ia berusaha berontak, dan bisa melepaskan diri," kata Romo Sandy. Karena melawan, kawanan lelaki itu menganiayanya. Ia jatuh dari ranjang, dan perutnya disodok dengan linggis. Akhirnya linggis disodokkan kembali, sehingga rahimnya cedera. "Kabar terakhir yang kami dapat, ia mengalami operasi kedua untuk mengangkat rahimnya," papar Romo Sandy. "Kita tak tahu siapa dan bagaimana pelakunya, tetapi cara perkosaan itu dilakukan mirip sekali dengan kesaksian korban perkosaan tanggal 13-14 Mei di Jakarta. Begitu brutal," ujarnya.
"Yang saudara baca banyak yang keluar dari internet duluan. Sebab banyak korban yang sudah dievakuasi ke luar negeri. Ada di Hongkong, Singapura, Eropa, Australia, Amerika. Mereka tersebar di mana-mana," tambah Romo Sandy. Selasa lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegas- kan, pihaknya yakin telah terjadi perkosaan secara masal, sistematis, biadab dan keji terhadap para wanita keturunan Cina di tengah kerusuhan 13-15 Mei di Jakarta. Karena itu Komnas HAM mendesak aparat keamanan mengusut tuntas dan menindak tegas para pelaku dan dalang peristiwa itu, (Bernas, 8/7). Romo Sandy pun menyerukan, pemerintah dan pihak keamanan untuk tidak menganggap sepi kasus perkosaan masal, kebanyakan menimpa perempuan Cina itu. Romo Sandy juga mengutarakan, pihaknya melihat ada upaya-upaya paksa dari pihak tertentu untuk menghentikan publikasi menyangkut persoalan ini. Ia mensinyalir upaya paksa dilakukan sebuah kelompok yang bekerja secara sistematis persis seperti yang terjadi dalam tragedi 13-14 Mei lalu.
"Selain ada usaha nyata untuk menghentikan munculnya berita-berita ini, ada juga usaha nyata untuk melanjutkan tindakan teror yang amat mengerikan dengan perkosaan ini. Maunya apa!" tegas Romo Sandy. Maka, lanjut Romo Sandy, sangat bisa dipahami kalau para korban kerusuhan dan perkosaan itu membungkam mulut nya meski sudah banyak orang berseru, bahkan pemerintah pun secara resmi meminta agar pelaku kerusuhan itu diusut. Karena, seruan itu ternyata tak diikuti tindakan apa-apa. "Tentu para korban ini belajar dari situ, untuk apa mereka bersaksi kalau tak ada tindakan apapun. Bukan hanya malu secara publik, tapi mereka pun terancam," tutur Romo Sandyawan. Bahkan, kata dia, tampak seperti ada usaha untuk menghilangkan secara paksa para korban itu. "Terbukti korban yang dilinggis (kasus Sunter Hijau) didatangi orang tertentu berkali-kali di rumah sakit," tandas Romo Sandyawan. Ia juga menceritakan korban lain yang sempat didampinginya. Gadis keturunan Cina itu, kata Romo Sandy, digagahi tanggal 20 Juni lalu setelah 'diculik' dengan menggunakan taksi sebagai kendaraan. Gadis yang baru lulus dari London Economic of School ini akan berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Tiga hari sebelum pergi, ia sedang ada keperluan di Jalan Sudirman Jakarta. Sekitar pukul 16.00, ia naik taksi Royal City untuk pulang.
"Taksi itu seharusnya langsung masuk tol, tapi ternyata tidak. Ketika ia mencoba protes, mobil dihentikan, lalu dibuka paksa dua orang berbadan tegap yang kemudian turut masuk ke dalam taksi itu dan menyekap korban," ujar Romo Sandy menuturkan kembali kisah korban. Masih mengutip penuturan korban, Romo Sandy menceritakan, ketiga lelaki - termasuk sopir taksi - itu saling bercerita mengenai pengalaman mereka di tengah kerusuhan 13-14 Mei dengan membakar dan memperkosa cewek- cewek amoy. Malah, kata Romo Sandy mengutip pengakuan korban, satu di antara lelaki itu menceritakan pernah mengiris alat vital seorang korbannya. "Ini adalah teror yang mendalam. Karena sesudah ia dalam taksi selama dua jam putar-putar, dan selama itu ia disuruh menunduk dengan kedua tangan di belakang. Kalau lelah dan mendongakkan kepala, ia dipukul, sampai sebelas kali pukulan," ujarnya mengutip pengakuan korban. Wanita itu diturunkan di sebuah kawasan agak di luar pusat keramaian. Di atas rerumputan, ia digagahi secara bergiliran. "Pukul 02.00 dini hari, ia dinaikkan taksi lalu dibawa melaju, dan di suatu tempat diturunkan begitu saja," katanya. Sebelumnya, kata Romo Sandy, ketika di bawah penguasaan para lelaki itu, seluruh dokumen korban sempat diminta dan dicatat. Bahkan ia diinterogasi dan diancam. "Kalau melapor, maka ia akan dibunuh dan keluarganya dibakar," tutur Sandyawan lagi. "Menurut korban ini, masih ada dua temannya lagi yang kena musibah dengan modus yang sama, pakai taksi. Bahkan lebih parah, temannya ini mengalami perdarahan. Ketika ia pergi ke ginekolog, dokter itu juga sedang menangani pasien yang mengalami kasus sama," ujar Romo Sandy lagi. Karena itu, kata Romo Sandy, kalau pemerintah tetap tak responsif atas penanganan persoalan ini, maka pihaknya akan membawanya ke tingkat internasional.
Ia menilai kasus kekerasan ini sudah begitu serius, dan ini sangat menghancurkan kredibilitas bangsa Indonesia di mata internasional. Dari Jakarta dilaporkan, pemerintah membentuk Tim Perlindungan Wanita Terhadap Kekerasan. Untuk saat ini tim tersebut memprioritaskan untuk menanggulangi wanita keturunan Cina yang mengalami kekerasan dan perkosaan pada 13 dan 14 Mei lalu. Tim ini diketuai Menteri Negara Peranan Wanita kala itu, Tuty Alawiyah.
Ternyata kebiadaban para perusuh di Indonesia tidak berhenti sebatas kasus Mei silam, namun kini mereka beraksi kembali. Ini mencerminkan bahwa negara kita memiliki manusia-manusia yang bebal dan bodoh karena tidak pernah merasa malu terhadap perbuatan mereka yang rendah. Mereka melakukan kejahatan semacam ini dengan keji dan tanpa merasa bersalah. Tangan-tangan mereka dipenuhi darah dan duka dari korban yang merasa tertekan bukan main akibat pelecehan atas diri mereka. Namun tahukah Anda? Para perusuh tersebut masih sempat-sempatnya menyebut nama Allah dalam menghalalkan tindakan mereka yang lebih rendah dari segala makhluk di bumi. Dan saya harus mengakui dan bersyukur bahwa masih ada orang seperti Romo Sandy yang berhati mulia dan penuh kasih terhadap sesama, walau saya sendiri pun tidak pernah mengenal beliau.
Bacalah kutipan ini: “Ketiga lelaki - termasuk sopir taksi - itu saling bercerita mengenai pengalaman mereka di tengah kerusuhan 13-14 Mei dengan membakar dan memperkosa cewek- cewek amoy. Malah, kata Romo Sandy mengutip pengakuan korban, satu di antara lelaki itu menceritakan pernah mengiris alat vital seorang korbannya.”
Rasakanlah dalam-dalam bagaimana mereka telah menginjak-injak harga diri warga keturunan Cina di seluruh Indonesia bahkan di dunia. Bagaimana kita bisa mengatakan kalau orang Indonesia itu pantas dianugerahi kemajuan dan kemakmuran dalam hidupnya bila mereka jelas-jelas tidak menghargai orang lain? Saya rasa, kemiskinan yang mereka rasakan juga merupakan sebuah balasan dari Tuhan mengingat betapa banyaknya perbuatan jahat yang mereka lakukan. Selama tidak menghargai dan menghormati hak orang lain, jangan harap akan ada kemajuan! Dan saya ingatkan satu hal kepada semua orang yang terlibat kejahatan kemanusiaan dalam tragedi Mei 1998 dan tragedi-tragedi lainnya bahwa hidup kalian selamanya tidak akan tenang. Waktu yang terus bergulir sekalipun tidak sanggup membendung rasa sakit hati para korban, dan andaikan kalian masih menganggap apa yang kalian lakukan adalah benar dan sesuai iman, ketahuilah bahwa langit dan bumi memiliki sepasang mata yang akan menghukum berat kalian pada saatnya nanti. Nantikan saja bagaimana anak cucu kalian akan menjadi korban dalam kejadian serupa.
Ternyata kebiadaban para perusuh di Indonesia tidak berhenti sebatas kasus Mei silam, namun kini mereka beraksi kembali. Ini mencerminkan bahwa negara kita memiliki manusia-manusia yang bebal dan bodoh karena tidak pernah merasa malu terhadap perbuatan mereka yang rendah. Mereka melakukan kejahatan semacam ini dengan keji dan tanpa merasa bersalah. Tangan-tangan mereka dipenuhi darah dan duka dari korban yang merasa tertekan bukan main akibat pelecehan atas diri mereka. Namun tahukah Anda? Para perusuh tersebut masih sempat-sempatnya menyebut nama Allah dalam menghalalkan tindakan mereka yang lebih rendah dari segala makhluk di bumi. Dan saya harus mengakui dan bersyukur bahwa masih ada orang seperti Romo Sandy yang berhati mulia dan penuh kasih terhadap sesama, walau saya sendiri pun tidak pernah mengenal beliau.
Bacalah kutipan ini: “Ketiga lelaki - termasuk sopir taksi - itu saling bercerita mengenai pengalaman mereka di tengah kerusuhan 13-14 Mei dengan membakar dan memperkosa cewek- cewek amoy. Malah, kata Romo Sandy mengutip pengakuan korban, satu di antara lelaki itu menceritakan pernah mengiris alat vital seorang korbannya.”
Rasakanlah dalam-dalam bagaimana mereka telah menginjak-injak harga diri warga keturunan Cina di seluruh Indonesia bahkan di dunia. Bagaimana kita bisa mengatakan kalau orang Indonesia itu pantas dianugerahi kemajuan dan kemakmuran dalam hidupnya bila mereka jelas-jelas tidak menghargai orang lain? Saya rasa, kemiskinan yang mereka rasakan juga merupakan sebuah balasan dari Tuhan mengingat betapa banyaknya perbuatan jahat yang mereka lakukan. Selama tidak menghargai dan menghormati hak orang lain, jangan harap akan ada kemajuan! Dan saya ingatkan satu hal kepada semua orang yang terlibat kejahatan kemanusiaan dalam tragedi Mei 1998 dan tragedi-tragedi lainnya bahwa hidup kalian selamanya tidak akan tenang. Waktu yang terus bergulir sekalipun tidak sanggup membendung rasa sakit hati para korban, dan andaikan kalian masih menganggap apa yang kalian lakukan adalah benar dan sesuai iman, ketahuilah bahwa langit dan bumi memiliki sepasang mata yang akan menghukum berat kalian pada saatnya nanti. Nantikan saja bagaimana anak cucu kalian akan menjadi korban dalam kejadian serupa.
* * *
1 komentar:
Satu kata, "KUTUK" untuk semua pelaku kejahatan kemanusiaan Mei 1998. Bagaimana kita bisa hidup dalam kesatuan bansga yang utuh kalau perbedaan kita pandang sebagai kejahatan? Ayolah, kita harus mengubah sikap sekarang juga demi kemajuan bangsa ini.
Posting Komentar