Selasa, 18 Desember 2007

Senior-Junior

Masih belum lekang dalam ingatan kita semua tentang bagaimana pemberitaan media massa yang mengangkat tema kekerasan terhadap praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) beberapa waktu lalu. Kasus kekerasan tersebut bukan hanya melukai fisik dan mental para praja atau istilahnya “murid” di IPDN tersebut, namun juga mengakibatkan kematian. Isu ini mencuat ke permukaan karena keadilan dan rasa kemanusiaan secara perlahan namun pasti membongkar bangkai busuk tersebut. Disebutkan berdasarkan data-data dalam rentang 10 tahun belakangan (hingga 2007) sudah ada beberapa kasus kematian yang terjadi dalam IPDN yang dahulu bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) itu.

Dalam reka ulang yang saya saksikan di salah satu televisi swasta dalam negeri, saya mencermati adanya unsur senior dan junior dalam institut yang seharusnya melahirkan kader-kader profesional tersebut. Pemukulan dan pengawasan yang berlebihan dilakukan oleh para senior seolah-olah mereka adalah “Tuhan” dari junior. Para junior pun hanya bisa pasrah, mungkin karena mereka berpikir bahwa memang seperti inilah keadaan di IPDN. Coba kita pikirkan, bagaimana bangsa kita bisa tumbuh sebagai bangsa yang berhasil kalau calon-calon pemimpinnya selalu disiksa dan diajari bahwa dunia ini kejam? Bagaimana mereka bisa manusiawi kalau diperlakukan terus-menerus seperti binatang?

Tidak terbatas hanya pada IPDN, ada pula kasus penganiayaan junior yang terjadi di Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) hingga menyebabkan tewasnya junior tersebut. Namun tahukah Anda, yang lebih parah lagi adalah hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku hanya 1 tahun penjara, hukuman yang terbilang amat ringan. Dan ketika ditanyai soal keringanan hukuman tersebut, ketua majelis hakim yang tidak perlu saya sebutkan namanya ini mengatakan bahwa kesalahan bukan terletak pada pelaku, namun pada sistem pembinaan yang ada di sekolah tinggi tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa majelis hakim salah, mereka telah menjalankan tugasnya meski menimbulkan pro-kontra di kalangan publik. Namun satu hal yang harus dicatat adalah bagaimana sistem yang ada di sekolah tinggi itu sendiri. Coba kita pikirkan, apakah mewarisi budaya “pukul-memukul” dari satu angkatan ke angkatan lain merupakan hal yang wajar dan bisa dibilang menyenangkan? Ingat, yang bisa mengubah sistem pembinaan bukanlah diri sistem itu sendiri, namun manusialah yang mampu mengubahnya menjadi lebih baik lagi. Tanpa adanya niat dari manusia di dalamnya, mustahil bangsa ini bisa mendapatkan pemimpin-pemimpin berkualitas, baik di eselon kecil maupun eselon besar.

Sekarang adalah saatnya bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk introspeksi diri dan mengakui kelalaian yang pernah terjadi. Kita tidak akan bisa mengubah masa lalu, yang bisa kita lakukan adalah mengubah tindakan hari ini sehingga memberikan hasil yang lebih baik lagi di masa depan. Buanglah jauh-jauh cara kekerasan dalam membina “anak didik” di sekolah-sekolah tinggi, apalagi yang berkenaan dengan sektor pemerintahan. Suka tidak suka, mau diakui atau tidak, manusia yang manusiawilah yang bisa merasakan bagaimana keadaan di lingkungan sekitarnya hingga pada akhirnya mampu untuk mengemban misi mulia memajukan negara tercinta Indonesia.

Tidak ada komentar: