<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430</id><updated>2011-04-21T14:51:18.053-07:00</updated><title type='text'>Majulah Indonesiaku</title><subtitle type='html'>Bergabunglah di blog ini. ANDA tidak hanya akan mendapatkan solusi terdepan untuk memajukan diri ANDA, namun selebihnya ANDA dapat bertukar pikiran dan akhirnya memberikan sebuah pembaharuan positif bagi bangsa Indonesia. Salam sukses!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-573368366728930846</id><published>2008-07-21T21:15:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T21:16:15.275-07:00</updated><title type='text'>Buku</title><content type='html'>Temen-temen... Baca buku "Pesan dari Murid untuk Guru" yahh.. =)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-573368366728930846?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/573368366728930846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=573368366728930846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/573368366728930846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/573368366728930846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2008/07/buku.html' title='Buku'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-1905707204137177874</id><published>2007-12-18T23:35:00.001-08:00</published><updated>2007-12-18T23:42:04.949-08:00</updated><title type='text'>Mengandalkan Subsidi</title><content type='html'>Ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerapkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM, hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia merasa keberatan dan mengecam kebijakan itu. Melihat kebijakan ini secara positif, kita harus tahu kalau ada alasan di balik setiap tindakan, begitu pula dengan tindakan pak presiden ini. Kala itu, kenaikan harga BBM dimaksudkan agar subsidi pemerintah bisa dikurangi sehingga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa turun jumlahnya. Satu fakta yang muncul adalah keadaan rakyat Indonesia yang begitu menyedihkan, dimana mereka senantiasa ingin hidup dicukupi oleh negara lewat subsidi-subsidi. Nyatanya, dalam pembangunan suatu bangsa, rakyat adalah komponen penting yang mendukung atau tidak mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah. Perlu dicatat kalau kenaikan harga BBM ini juga diimbangi oleh pemerintahan SBY dengan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang besarnya Rp 100.000,00 per bulan untuk satu kepala keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nyatanya, lewat pemberitaan televisi saya mengetahui kalau ada penyimpangan BLT yang terjadi. Bayangkan, seorang ibu dari keluarga menengah dengan kalung emas melilit di lehernya diketahui mengambil BLT sebanyak 2 kali untuk keluarganya sehingga ada keluarga miskin yang tidak kebagian. Tindakan semacam ini bisa kita golongkan sebagai survivor act atau tindakan untuk bertahan hidup, namun di sisi lain mereka tidak memperhatikan nasib keluarga lain. Yang penting gue makmur, begitulah kira-kira pikiran mereka. Kemajuan suatu bangsa harus didukung oleh rakyat, namun dalam upaya memajukan negara secara makro ini pemerintahan SBY justru ditekan, banyak rakyat yang berdemonstrasi tanpa mengetahui apa tujuan dari kebijakan itu sendiri. Rakyat pun cenderung antipati terhadap kebijakan yang berorientasi jangka panjang ini. Coba kita bayangkan sendiri, bagaimana kalau Pak SBY, selama beberapa tahun masa kepemimpinannya hanya mencapai prestasi dalam hal menyubsidi BBM bagi rakyat kecil? Keadaan itu tentu tidak seimbang dan selaras dengan cita-cita seorang pemimpin di bangsa yang majemuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat seharusnya mau kerja keras, jangan berdiam diri di rumah sehingga setiap potensi rezeki dapat mereka manfaatkan. Kalau hanya berdiam diri dan mengeluh tentang pemerintah, tentu saja tidak akan terjadi apa-apa, malahan kehidupan akan berujung pada kesulitan yang lebih dan lebih lagi. Kehidupan yang maju adalah kehidupan yang mengikuti perkembangan atau dinamis. Kalau hanya statis-statis saja, bisa-bisa Indonesia tersingkir dari percaturan global. Siapa yang mau begitu? Selain itu, pemberian BLT juga sudah cukup membuktikan bahwa pemerintahan SBY tidak serta-merta membuat rakyat kaget, beliau masih memberikan masa penyesuaian sampai rakyat benar-benar sadar kalau hidup itu bukan semata-mata bergantung pada pemerintah, namun terlebih pada daya juang dan semangat baja yang terus terpelihara dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah, kita sudahi budaya mengandalkan subsidi terus-menerus dari pemerintah karena kita adalah kesatuan Indonesia yang ingin maju, yang progresif, dan yang bermartabat di mata dunia. Kita harus bekerja maksimal sekarang juga, jangan hanya melihat sisi dari kacamata orang miskin karena di negara sekaliber Amerika Serikat dan China pun masih saja ada penduduk yang miskin. Dan justru di sanalah tugas dari penduduk untuk bangkit dan menyesuaikan diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-1905707204137177874?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/1905707204137177874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=1905707204137177874' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/1905707204137177874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/1905707204137177874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/mengandalkan-subsidi.html' title='Mengandalkan Subsidi'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-4142707882938498204</id><published>2007-12-18T23:34:00.001-08:00</published><updated>2007-12-18T23:34:57.300-08:00</updated><title type='text'>Babak-Belur Gara-Gara Rp 1.000,00</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bacalah kutipan surat kabar ini,&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tito (56), juru kutip retribusi DLLAJ Kota Bogor, menderita luka parah di bagian kepalanya setelah dipukul dengan batu oleh seseorang yang diduga preman, hanya karena menolak menyerahkan uang Rp 1.000,00. saat preman itu minta uang, Minggu (21/10) siang, Tito sedang bertugas di Jalan Bina Marga, Bogor Timur, Kota Bogor. Akibat luka yang dialaminya, Tito harus dirawat di RSU PMI Bogor. Menurut juru kutip retribusi pengemudi angkutan perkotaan (angkot) tersebut, dia menolak memberi uang karena memang pada saat itu belum ada uang yang dikutipnya. Selain itu, pria tersebut minta uang untuk membeli minuman keras. “Saya mencium aroma minuman keras dari mulutnya,” katanya ketika ditemui di ruang IGD RSU PMI. Saat mau dipukul oleh pria yang dipengaruhi alcohol tersebut, Tito sempat melawan. Namun, pria itu segera mengambil sebongkah batu yang ada di sekitarnya, dan Tito pun melakukan hal yang sama. Kedua pria itu saling pukul menggunakan batu. Tetapi sial, pukulan Tito tidak pernah mengenai pria itu. Justru batu yang digenggam pria itu berhasil mengenai kepala Tito hingga berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita renungkan bersama-sama tentang kejadian di atas. Kita sama-sama tahu, berapa besarlah penghasilan juru kutip itu, tentunya bukan jumlah yang menggiurkan. Seorang preman yang mabuk dan “lepas” ke jalanan dengan seenaknya meminta uang, ia tidak tahu kalau orang lain juga susah mendapatkan uang. Nah, kejadian semacam inilah yang diibaratkan seperti tikus menggigit pintu, yaitu ketika pintu yang rusak masih sebagian kecil, memang tidak kelihatan, namun kalau tikus terus-menerus menggigit pintu, maka pintu akan hancur. Negara kita pun demikian. Saat virus-virus kecil berkeliaran di masyarakat, seolah-olah itu menjadi bahan berita semata karena toh tidak menghancurkan kedaulatan bangsa. Namun dari kacamata sosial, tampak jelas bahwa kejadian semacam ini adalah kejahatan yang menimbulkan korban dengan luka cukup serius. Bagaimana kalau seandainya Tito terluka amat parah hingga ajal menjemput?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal semacam ini perlu kita perhatikan. Hal semacam ini jelas menghambat kemajuan bangsa karena selain membuat orang malas melirik Indonesia, di dalam tubuh kesatuan bangsa ini pun sudah terjadi konflik intern, yaitu sesama orang susah saling menyusahkan. Bagaimana nasib masyarakat ke depan? Kita tunggu saja bagaimana cara mereka hidup. Namun sekedar saran, kita sebagai anggota masyarakat jangan sampai mau dikasari begitu. Kalau seandainya ada orang mabuk minta Rp 1.000,00, berikan sajalah daripada kita terluka. Setuju?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-4142707882938498204?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/4142707882938498204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=4142707882938498204' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/4142707882938498204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/4142707882938498204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/babak-belur-gara-gara-rp-100000.html' title='Babak-Belur Gara-Gara Rp 1.000,00'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-5185783857444474411</id><published>2007-12-18T23:33:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T23:34:18.835-08:00</updated><title type='text'>Berani Bayar 200 Ribu</title><content type='html'>Suatu siang di bulan puasa, saya baru saja turun dari Bus Transjakarta (Busway) di terminal Tosari, dekat Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Seperti biasa, ketika turun dari Busway pastilah saya harus berjalan melalui jembatan penyeberangan hingga akhirnya bisa turun dan melangkah ke tempat tujuan selanjutnya. Kebetulan pada hari itu saya berencana untuk pergi ke penerbit karena ada urusan. Saat saya turun dari jembatan penyeberangan tersebut, saya bertemu dengan sekelompok tukang ojek, kira-kira ada 6 orang jumlah mereka itu. Sayapun ditawari untuk naik ojek, namun saya menolak dengan halus karena tempat tujuan saya sudah dekat. Ketika saya baru akan beranjak pergi menjauh dari tukang ojek itu, sontak saya dibuat terkejut oleh perkataan mereka yang tidak sopan.&lt;br /&gt;“Eh perek!” kata salah satu tukang ojek dengan suara keras dan sambil tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung, mengapa ada ucapan seperti itu? Ternyata ketika saya beranjak pergi, ada dua orang wanita keturunan Tionghua yang berjalan melalui mereka. Saya mengetahui wanita itu keturunan Tionghua karena kulitnya yang putih dan matanya yang sipit, walau saya hanya melihatnya secara sekilas. Kedua wanita tersebut, sejauh pendengaran saya tidak membalas perkataan tukang ojek itu, karena mereka tidak merasa sebagai pelacur. Tidak lama berselang, saya menolehkan kepala karena merasa terkejut. Saya tidak berkata apapun, namun dalam hati saya berpikir, “Kurang ajar sekali tukang ojek itu, terlebih ini bulan puasa.” Selanjutnya, tukang ojek lainnya tidak mau kalah dengan perkataan temannya, iapun berkata sambil tertawa terbahak-bahak,&lt;br /&gt;            “Hahaha, puasa gue batal nih liat barang bagus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buset!! Saya entah harus melakukan apa mendengar kedua wanita itu direndahkan. Namun sejauh mereka tidak melakukan pelecehan fisik, saya diam saja karena dari segi jumlah saya kalah dari mereka, lagipula saya tidak mau sok jagoan. Ketika rasa terkejut masih menyelimuti diri saya, saya kembali mendengar tukang ojek lainnya berkata,&lt;br /&gt;            “Gimana Neng? Gue sih berani bayar 200 ribu semalem sama lu!” diiringi tawa oleh teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, saya muak melihat mereka semua. Selain ini bulan puasa dan mereka berpuasa, mereka juga sudah merendahkan derajat wanita. Para tukang ojek itu ada yang wajahnya codet bekas luka, ada yang ompong dan berkulit hitam gosong, dan ada pula yang berambut keriting tak beraturan, namun sama sekali tidak bisa menyeimbangkan kejelekan fisik mereka dengan perilaku yang baik. Kalau secara fisik kurang rupawan namun berkelakuan baik, itu masih bisa diterima. Namun kalau secara fisik jelek dan perilakunya lebih jelek lagi, bagaimana mereka bisa dianggap manusia? Mereka malah lebih rendah dari binatang, melihat usia mereka yang saya kira tidak kurang dari 30 tahun, sebuah angka yang notabene haruslah menjadi jaminan pengetahuan tata-krama. Kalau sudah menghadapi masalah semacam ini, saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya mengimbau kepada seluruh wanita agar lebih berhati-hati dalam keseharian, dan ingat agar jangan pernah berjalan sendirian, walau di siang hari sekalipun karena ancaman dari makhluk-makhluk rendah semakin banyak saja. Bulan puasa saja sudah tidak mampu membendung kejelekan mereka, bagaimana kalau di bulan-bulan biasa? Untuk tukang ojek yang mencoreng wajah Indonesia itu, ingatlah selalu kalau semua manusia dilahirkan di dunia ini untuk merasa aman, bukan untuk merasa dilecehkan oleh tindakan-tindakan kalian yang tidak berpendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-5185783857444474411?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/5185783857444474411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=5185783857444474411' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/5185783857444474411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/5185783857444474411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/berani-bayar-200-ribu.html' title='Berani Bayar 200 Ribu'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-3076507883009311484</id><published>2007-12-18T23:31:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T23:32:44.756-08:00</updated><title type='text'>Jalanan Ini Punya Babe Gue!!</title><content type='html'>Saya punya hobi mengelilingi kota, terutama dengan kakak saya. Kami berdua sering mengendarai mobil dan mengunjungi tempat-tempat seru di Jakarta. Setiap kali pergi, saya selalu membawa kertas dan pensil untuk mencatat kejadian-kejadian penting yang menjadi bahan inspirasi buat saya dalam menulis. Satu masalah yang selalu saya temui di jalanan adalah perilaku orang-orang yang tidak tahu dimana mereka berada. Bayangkan saja bagaimana seorang anak muda berusia 20an tahun dengan santainya berjalan di tengah jalan besar sementara kami mengklakson dan ia tidak menghiraukan. Saya tahu, mayoritas masyarakat di DKI Jakarta, terutama yang tersebar di jalan-jalan adalah pribumi asli. Namun apakah itu menjadi jaminan bahwa mereka boleh seenaknya di jalanan? Kalau seandainya mereka tertabrak karena kesalahan mereka sendiri, saya jamin pengendara mobil, apalagi seorang keturunan Tionghua pasti dikasari dan dimaki-maki, selain dimintai uang ganti rugi dalam jumlah besar, padahal ia tidak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok saja bagaimana kelakuan sopir angkot di jalan. Mereka itu memiliki kelakuan yang amat seenaknya. Mereka tidak menghiraukan pengendara lain, dan dengan santainya bisa memberhentikan angkot mereka dimana saja mereka mau. Kalau ada kejadian, dalam arti kecelakaan karena masalah ini, apakah para sopir angkot mau disalahkan? Kita bisa jawab sendiri, mereka tentu saja tidak mau, malahan mereka menuding balik. Ada lagi kasus segerombolan anak-anak kecil yang bermain seenaknya di jalanan sementara mereka tidak mengetahui kalau ada risiko besar yang menghantui mereka, yaitu kecelakaan. Dalam hal ini, siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Jawabannya adalah orang tua mereka sendiri. Orang tua mereka dengan tenangnya membiarkan anak-anak bermain di jalanan, dan terkadang malah berharap anaknya ditabrak mobil sehingga mendapatkan uang ganti rugi. Kalau sampai anaknya mati, yah mati saja, toh masih ada banyak anak lainnya. Beginilah mental orang Indonesia, terutama yang menetap di perkotaan. Saya bukan memfitnah mereka, namun saya mengalami sendiri bagaimana keadaan lalu-lintas yang sering diwarnai dengan kecelakaan-kecelakaan bodoh yang disebabkan kelalaian manusia, saya saksikan sendiri bagaimana ricuhnya keadaan lalu-lintas yang diwarnai oleh tindakan-tindakan konyol dan tak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah selayaknya para orang tua lebih memperhatikan anaknya. Jangan sampai anak-anak dibiarkan tumbuh dalam pergaulan jalanan yang tidak selamanya baik, yang malah cenderung berisi hal-hal negatif. Kalau yang ada sekarang berlangsung terus-menerus, saya justru mencium adanya indikasi dari para orang tua tidak bertanggung jawab itu untuk membiarkan anak-anaknya bergaul di jalanan dan mencari uang dengan mudah, seperti mencopet di lampu merah ataupun menjadi penjahat jalanan, yang penting banyak uang. Muka bangsa Indonesia akan tercoreng sekali di mata dunia bila ada warga negara asing yang menjadi korban. Hanya karena tindakan “parasit” beberapa oknum, bangsa kita menjadi jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari kejelekan yang satu biasanya akan muncul kejelekan-kejelekan lainnya. Jadi untuk para orang tua, perhatikanlah anak-anak kalian dengan lebih cermat, rawatlah mereka dengan baik, dan ajarkanlah kepada mereka pendidikan budi pekerti yang baik, karena lewat pendidikan budi pekerti yang baik, seseorang akan disenangi sehingga pada akhirnya bisa berkarya dan menghasilkan uang halal lewat bantuan orang lain. Kalau sudah begitu, tiket untuk keluar dari kemiskinan sudah semakin dekat. Berjuanglah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-3076507883009311484?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/3076507883009311484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=3076507883009311484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/3076507883009311484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/3076507883009311484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/jalanan-ini-punya-babe-gue.html' title='Jalanan Ini Punya Babe Gue!!'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-7068597024197810766</id><published>2007-12-18T23:29:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T23:30:36.894-08:00</updated><title type='text'>Solusi Terdepan Memajukan Bangsa</title><content type='html'>Jujur saja, kalau orang Indonesia tidak mempunyai niat yang kuat dari dalam hati untuk berubah menjadi lebih baik, kemajuan bangsa tidak akan pernah tercapai. Namun karena saya percaya bahwa di kegelapan sekalipun ada setitik cahaya, saya harus mengatakan kalau seandainya kita mau maju, kita harus menghilangkan budaya kekerasan dan “senior-junior” dalam segala sudut kehidupan, baik dalam kehidupan sosial biasa maupun di berbagai eselon lainnya. Namun ini bukan berarti kita boleh bertindak kurang ajar terhadap yang lebih tua. Sebisa mungkin sikap toleran kita kembangkan, kita jadikan bahasa sehari-hari supaya perdamaian bisa terwujud antarmanusia. Gaya kehidupan yang lu lu gue gue juga harus kita pandang sebagai penghalang kemajuan, karena itulah kalau boleh, kita sepantasnya peduli dengan sesama kita. Budaya permisif dan acuh tak acuh memang sudah merasuk ke dalam sendi-sendi orang Indonesia, namun kalau kemauan diteguhkan, niat dikuatkan, kita akan mampu untuk melakukannya, kita akan maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kedua, kita juga harus sadar diri. Jangan cuma bisa iri hati sedangkan kita sendiri tidak berbuat apa-apa. Ingat, sirik atau iri hati adalah tanda tak mampu. Apakah kita tidak malu pada diri kita sendiri kalau terus-menerus begini? Kalau 200 juta penduduk di Indonesia, atau setidaknya 50% saja mau kerja keras, bangsa kita akan menjadi bangsa yang tidak terkalahkan di dunia. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan ratusan juta orang di negeri ini dalam membangun segala sektor. Namun sayangnya, justru yang selama ini salah adalah kita kurang mau bahkan tidak mau kerja keras, kita mau cari yang gampang saja. Kalau bertahan hidup dari segi ekonomis itu membutuhkan perjuangan, kita pun dituntut untuk berusaha, bukan berdiam diri. Kalau sama sekali tidak ada usaha, siap-siap saja untuk menderita. Toh kesuksesan atau keberhasilan itu bukan ditentukan takdir, tapi ditentukan oleh upaya-upaya kita. Sikap anarkis juga harus disorot. Kenapa kita ini mudah sekali terprovokasi? Kenapa kita tidak bisa menyelesaikan masalah baik-baik? Apa karena kita kelaparan dan penuh iri hati sehingga ada masalah sedikit saja langsung main pukul dan main bakar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk masalah HAM juga demikian. Selama ini dunia internasional gigih memperjuangkan HAM. Namun sebagai bangsa beradab di dunia, mengapa kita tidak bisa menghargai HAM orang lain? Mengapa kita selalu merasa bahwa kebebasan berekspresi, kebebasan berkarya orang lain, terutama untuk warga keturunan Cina adalah salah? Mengapa kita masih saja menganggap perbedaan sebagai suatu kejahatan? Tragedi Mei 1998 sudah cukup untuk mewakili jerit tangis Indonesia, kejadian tersebut sama sekali tidak ada sisi positifnya meski banyak pernyataan populer bahwa segala macam hal dapat dilihat dari 2 sisi, namun untuk masalah ini yang ada hanyalah kebiadaban dan kebiadaban. Apakah kita berpikir bahwa kasus yang kini tidak dibahas secara lugas ini sudah selesai? Nyatanya belum. Masih ada luka batin mendalam bagi seluruh korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, sekarang keadaannya sudah kepalang basah, tragedi itu sudah menjadi masa lalu kelam yang tak bisa diubah. Menghapus dosa akibat perbuatan keji tersebut adalah mustahil. Satu-satunya hal yang bisa kita perbuat adalah berjanji untuk tidak mengulangi kejahatan HAM selama-lamanya. Tunjukkan bahwa kita, tanpa kecuali berkomitmen untuk menegakkan HAM seperti yang kita seru-serukan dalam demonstrasi pada umumnya. Satu hal lagi, kita juga harus tahu terima kasih. Janganlah kita hanya bisa menuntut, kita harus saling mengerti karena manusia adalah unik adanya. Kalau kita tahu berterima kasih, keuntungannya amat banyak dan kita bisa menjadi makhluk yang lebih bahagia. Hati bersih, pikiran bersih? Itulah yang harus kita capai. Mudah-mudahan, untuk ke depannya dunia pendidikan dan sosial-kemasyarakatan di Indonesia bisa dipenuhi dengan rasa saling mengerti, menghargai, dan menomorsatukan konsensus yang baik. Biarkanlah geng-gengan tetap ada, namun kita harus ubah arah dan tujuan mereka supaya menjadikan perdamaian sebagai dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau judulnya sudah damai, bisa-bisa malah geng-gengan tersebut membantu tugas kepolisian untuk menjaga keamanan negara. Dan terakhir untuk kasus KDRT, kaum hawa dalam hal ini harus lebih selektif dalam memilih pasangan hidup, jangan mudah termakan janji-janji manis. Maaf bila saya keluar garis sedikit dari topik sosial, cinta itu sama sekali tidak dibuktikan lewat pukulan penuh amarah. KDRT harus kita selesaikan karena pada dasarnya pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk hidup dalam kemerdekaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-7068597024197810766?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/7068597024197810766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=7068597024197810766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/7068597024197810766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/7068597024197810766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/solusi-terdepan-memajukan-bangsa.html' title='Solusi Terdepan Memajukan Bangsa'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-3598237264990962957</id><published>2007-12-18T23:00:00.001-08:00</published><updated>2007-12-18T23:00:58.916-08:00</updated><title type='text'>Tidak Tahu Terima Kasih</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu saya menonton acara kriminal Buser yang ditayangkan SCTV. Dari tayangan tersebut, saya merasa terkejut bukan main. Bukan karena kasus perampokan atau apa-apa, namun saya melihat satu orang pria dengan wajah sampahnya sedang mendekam di tahanan akibat kasus perkosaan. Yang parahnya, perempuan yang menjadi korbannya adalah putri dari seorang sahabatnya yang telah berbaik hati membiarkan pelaku tinggal serumah dengan mereka. Jadi singkat cerita, si pelaku itu tidak punya tempat tinggal karena sedang meninggalkan kampung halaman dan mengadu nasib di kota. Nah, pada saat sahabat pelaku tersebut berniat baik untuk membantu memberikan tempat berteduh, tak disangka perbuatan biadab dijadikan ucapan “terima kasih”. Sungguh aneh dan biadab orang seperti itu. Bayangkan saja, air susu bukan saja dibalas dengan air tuba, namun air susu dibalas dengan air berisi racun tikus, air keras, unsur kimia berbahaya, dan radioaktif sehingga sungguh-sungguh “membunuh”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-3598237264990962957?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/3598237264990962957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=3598237264990962957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/3598237264990962957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/3598237264990962957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/tidak-tahu-terima-kasih.html' title='Tidak Tahu Terima Kasih'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-5690717783966787061</id><published>2007-12-18T22:59:00.002-08:00</published><updated>2007-12-18T23:00:29.619-08:00</updated><title type='text'>Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Parah</title><content type='html'>Sebenarnya yang namanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama, namun baru belakangan ini saja mencuat ke permukaan. Pemukulan dan perendahan martabat manusia merupakan perwujudan dirinya. Apakah ini pertanda degradasi moral di kalangan masyarakat Indonesia yang notabene beragama dan berbudi luhur? Yang namanya konflik dalam rumah tangga itu adalah hal biasa, namun tatkala konflik berujung pada kekerasan dan mengakibatkan gangguan psikis, apakah itu bisa ditolerir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari UU 23 / 2004 tentang Penghapusan KDRT, pada hakekatnya siapapun yang menjadi anggota sebuah rumah tangga berhak untuk memperoleh keamanan dan kenyamanan dalam hidupnya. Kekerasan dan tindakan destruktif dari satu pihak ke pihak lainnya selayaknya menjadi komponen yang harus dihilangkan sebagai upaya dari pengejawantahan UU itu sendiri. Namun kenyataannya itu hanyalah teori belaka. Dalam praktek sehari-hari berumah tangga, KDRT seolah menjadi “penyedap rasa” yang sudah sewajarnya terjadi, entah dengan alasan suami yang lelah bekerja, frustasi karena selalu gagal buka usaha atau mengalami gangguan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam kehidupan di masyarakat, gangguan ekonomi merupakan hal yang berlaku umum karena dialami oleh banyak sekali masyarakat. Untuk menyikapi kesulitan semacam ini, kita semua khususnya kaum adam selayaknya ingat tentang apa komitmen dasar kita untuk membangun rumah tangga. Apakah rasa cinta harus diwujudkan dengan pemukulan yang melukai hati dan tubuh seorang wanita? Kalau seorang ibu memukuli anaknya dengan wajar karena anaknya berkelakuan tidak baik, itu masih bisa diterima sejauh tidak melukai fisik dan psikis anak secara mendalam. Namun bila pemukulan dilakukan dari suami ke istri dengan alasan yang klasik dan umum, itu sama saja dengan menghina perjuangan ibu kita Kartini yang menyuarakan emansipasi/persamaan hak pria-wanita. Lupakanlah sejenak perihal peranan politis wanita dan anak-anak dalam pembangunan multidimensi di bangsa ini, kita lihat dulu apa dan bagaimana makna kemerdekaan diri bagi mereka dalam kehidupan berumah tangga. Kalau saja seorang wanita atau anak-anak mendapatkan perlakuan yang tidak baik di dalam lingkungan keluarganya, kesempatan mereka untuk beraspirasi sudah tentu akan kurang karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana untuk bertahan hidup hari ini (entah mungkin karena suami / ayah mereka melepaskan tanggung jawab begitu saja atau bagaimana), bukan untuk memajukan bangsa Indonesia lewat peran aktif mereka dalam kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Belum lekang dari ingatan kita tentang sosok Siti Nurjazilah, seorang wanita yang menjadi korban KDRT kategori parah sampai-sampai harus menjalani operasi face off  untuk memperbaiki wajahnya yang rusak. Bisa kita lihat sendiri bagaimana parahnya siklus kehidupan dalam rumah tangga yang tidak sehat ini hingga nyawa seorang manusia digadai dan diletakkan pada titik terendah. Ini merupakan kejahatan kemanusiaan karena selain menghina kesahihan HAM yang dimiliki setiap manusia, pelaku KDRT seolah-olah menjadi “Tuhan” bagi korbannya. Apakah hal semacam ini bisa dibenarkan? Berdasarkan data Rifka Annisa Women’s Crisis Center, sedikitnya ada 226 kasus kekerasan terhadap wanita dan anak-anak yang terkuak dalam rentang bulan Januari-September tahun 2007. Angka ini pun masih sekedar “kejadian terkuak” yang setiap saat bisa bertambah seiring gencarnya kampanye-kampanye LSM supaya wanita berani untuk melihat dan melaporkan kasus KDRT di lingkungan sekitar mereka. Sejauh ini, kaum hawa biasanya merasa takut untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami dalam rumah tangga karena takut dicerai oleh suami atau takut kehilangan sandaran ekonomi. Namun kini kaum hawa selayaknya menghilangkan ketakutan-ketakutan tersebut karena dari segi sosial maupun hukum, tindakan KDRT akan ditentang oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama bahkan elite politik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Siapakah yang pertama kali mempopulerkan istilah “Sorga di telapak kaki ibu”? Apakah agama yang mengajari hal semacam ini? Terlepas dari mana istilah ini bermula, ketahuilah bahwa ibu adalah kaum hawa yang mengasihi dan senantiasa mengusahakan hal-hal terbaik untuk kemajuan muda-mudi di Indonesia, bahkan di dunia. Satu kabar buruk untuk para pelaku KDRT, ternyata Anda adalah orang-orang yang tidak tahu terima kasih kepada sang ibu karena atas nama kaum hawa di bumi ini, tindakan KDRT telah melanggar etika kemanusiaan dan mengusik hak manusia yang paling hakiki yaitu hak untuk hidup dengan perasaan merdeka. Karena itulah, sekarang adalah momentum yang paling tepat untuk berani buka suara terhadap ketidakadilan semacam ini. Dunia ini amatlah luas, mengapa kita semua mau hidup terpenjara? Ayo, bangkitlah kaum wanita, didiklah bangsa kita ini menjadi bangsa yang manusiawi, kita lawan KDRT bersama, syukur-syukur para pelaku KDRT akan menyesali perbuatan mereka dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-5690717783966787061?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/5690717783966787061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=5690717783966787061' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/5690717783966787061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/5690717783966787061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/kekerasan-dalam-rumah-tangga-kdrt-parah.html' title='Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Parah'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-7926648945095836143</id><published>2007-12-18T22:59:00.001-08:00</published><updated>2007-12-18T23:31:52.024-08:00</updated><title type='text'>Sweeping Seenaknya</title><content type='html'>Jujur saja, kita semua yang hidup di Indonesia menganut satu semboyan kebangsaan bersama yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya walau kita berbeda namun kita tetap satu jua. Perbedaan yang ada tidak kita pandang sebagai pendorong konflik, namun sebagai keanekaragaman yang harus kita hargai bersama. Permasalahan budaya dan cara hidup kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama, di sinilah kita harus menggunakan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar berpikir kita. Masih segar dalam ingatan saya pada kejadian di bulan puasa tahun 2007 saat sekelompok Organisasi Masyarakat (Ormas) dan gerakan pemuda melakukan sweeping seenaknya pada sebuah warung makanan yang masih beroperasi, padahal jelas-jelas warung makanan tersebut sudah ditutupi dengan kain dan hanya menjalankan aktivitasnya demi mencari uang dengan tidak terang-terangan. Mereka melempari warung tersebut dengan batu dan memaki-maki pemilik warung. Coba pertama-tama kita pikirkan, kalau seandainya orang Islam sedang berpuasa, apakah orang yang beragama lain harus menghentikan kegiatan usahanya? Apakah orang non-Islam tidak boleh “cari makan” di bulan puasa, terlebih untuk mereka yang berjualan makanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aneh saya melihat kejadian ini. Apakah semangat berpuasa dalam rangka menahan hawa nafsu harus dibayar dengan tindakan pengrusakan dan penghancuran warung milik orang lain yang hanya sekedar “cari makan”? Tindakan semacam ini tidak dibenarkan dan hanya akan menjadi penghambat Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Dalam kasus ini, kalau seandainya orang Islam yang berpuasa tidak mau membeli makanan, ya diam saja di rumah! Gitu aja kok repot? Kalau mereka tidak mau membeli, lantas kenapa orang lain tidak boleh membeli juga? Mengapa sifat mereka begitu egois sampai-sampai mereka tega merusak warung orang lain yang dibangun mati-matian dari beribu tetes keringat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi kasus sweeping ilegal yang dilakukan oleh ratusan warga dari sebuah organisasi terhadap kafe dan penginapan di Jalan PWRI Desa Bojong, Depok. Kehadiran massa yang tiba-tiba itu sontak membuat sang pemilik terkejut dan hanya bisa pasrah menyaksikan bangunan yang terbuat dari kayu itu dibakar dan kacanya dibuat pecah. Menurut Ormas yang melakukan aksi ini, mereka semata-mata melakukan sweeping untuk menghindari tindakan maksiat selama bulan puasa, namun mereka sama sekali tidak menyadari kalau mereka tidak punya otoritas apa-apa untuk mengambil tindakan anarkis ini. Saya ingin tanya, apakah merusak kafe dan penginapan ini sama dengan menyelesaikan masalah? Ketahuilah, selama bulan puasa pun, agama apapun tidak mengajarkan umatnya untuk melakukan kejahatan dan pengusikan terhadap hak orang lain. Kalau sekarang mereka melakukan aksi main hakim sendiri, itu sama saja merusak citra agama yang mereka anut, selain itu mereka juga telah melakukan pelanggaran terhadap hak orang lain untuk mencari uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya tanya, kalau seandainya Anda adalah seorang umat Islam yang memiliki usaha kafe dan penginapan dimana Anda bisa menghasilkan banyak uang setiap harinya, apakah Anda rela usaha Anda dihancurkan oleh oknum-oknum yang anarkis tersebut? Sebenarnya masalah kafe dan penginapan itu sendiri adalah persoalan sudut pandang seseorang dalam melihat arti dan fungsinya. Kafe digunakan untuk tempat makan, minum, ngobrol, dan bersantai bagi sebagian orang yang membutuhkan penyegaran psikis, kita bisa memandangnya secara positif. Maaf saja, kenapa pada bulan puasa pikiran orang-orang masih saja negatif dan negatif? Katanya bulan penuh rahmat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau sweeping dilakukan karena khawatir terhadap perbuatan-perbuatan maksiat, bukankah sebenarnya para pelaku sweeping yang berjiwa maksiat? Mungkin selama bulan-bulan biasa di luar bulan puasa mereka pergi ke kafe untuk berbuat hal maksiat, maka pikiran mereka kini selalu berorientasi pada perbuatan maksiat dan juga terkesan “sok suci”. Kalau kita berbicara mengenai penginapan, terus terang saja banyak hal yang bisa dilakukan. Para turis bisa menjadikan penginapan sebagai rumah sementara mereka, para pendatang bisa menjadikan penginapan sebagai alternatif sebelum mendapatkan rumah tetap, dan orang-orang lain bisa juga menggunakan penginapan untuk melakukan aktivitas seksual. Namun selama mereka melakukannya secara pribadi tanpa menunjukkan ke orang lain, apakah itu salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah selama bulan puasa orang lain, terutama yang non-Islam tidak boleh berhubungan seksual di penginapan? Intinya, perluaslah sudut pandang kita terhadap suatu hal, jangan sampai tindakan main hakim sendiri membuat citra diri kita semakin buruk. Namun kala nasi sudah menjadi bubur seperti sekarang ini, satu-satunya cara penyelesaian adalah menindak tegas para pelaku anarkisme, jangan biarkan mereka membuat bangsa kita yang besar ini jalan di tempat, juga jangan biarkan mereka terus-menerus melanggar kebebasan orang lain untuk melakukan kegiatan usaha.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-7926648945095836143?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/7926648945095836143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=7926648945095836143' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/7926648945095836143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/7926648945095836143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/sweeping-seenaknya.html' title='Sweeping Seenaknya'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-3343785209485724646</id><published>2007-12-18T22:57:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T22:59:01.404-08:00</updated><title type='text'>Geng Konyol</title><content type='html'>Sektor pendidikan yang diharapkan dapat melahirkan manusia-manusia Indonesia berkualitas harus dinodai dengan adanya kejahatan kemanusiaan yang kembali terulang. Kali ini, sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) bernama SMA 34 yang terletak di Jakarta-Selatan menyerbu pemberitaan di media massa karena sebuah sensasi yang hebat bila dipandang oleh orang-orang yang konyol dan tidak bertanggung jawab. Di SMA tersebut, ada sebuah geng yang sudah terkenal dari satu angkatan ke angkatan selanjutnya. Geng tersebut bukanlah perkumpulan anak muda yang berguna dan membangun citra positif. Mereka sering meminta uang kepada “korban” mereka dan tanpa segan mereka menghajar korban hingga luka-luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus terakhir yang mengarah kriminal menimpa Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15) yang menderita patah tulang akibat penganiayaan anggota geng di SMA 34. Sah-sah saja bergabung dalam kelompok geng bila tujuannya adalah untuk menambah teman, namun kalau geng itu digunakan untuk jadi jagoan dan melecehkan orang lain, meski dilakukan oleh anak-anak SMA, kasus ini dapat ditindak layaknya perbuatan kriminal karena jelas berbenturan dengan hukum. Kalau boleh jujur, sebagai seorang pelajar, saya juga menemukan banyaknya teman-teman saya yang dilecehkan dan dijadikan bulan-bulanan, namun untungnya itu hanya digunakan untuk bercanda dan tidak melibatkan fisik sama sekali. Namun tindakan seperti ini pun harus dibuang jauh-jauh karena bisa mengusik ketenangan orang yang bersangkutan untuk belajar dan menimba ilmu di sekolah. Dalam lingkup sekolah, pelajar-pelajarlah yang bisa mencegah terjadinya penyimpangan dan membuat perubahan positif, di luar guru dan kepala sekolah sendiri. Dan untuk belajar dari pengalaman pahit seperti kasus SMA 34 ini, kita semua harus peka untuk mengamati dan mengarahkan ke arah yang benar karena sesungguhnya hakekat dari pendidikan di sekolah adalah mencerdaskan kehidupan bangsa lewat manusia-manusianya yang manusiawi, bukan yang malah brutal. Ingat, dengan pergaulan yang sehat di sekolah, kita bisa memupuk perasaan sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Dan kalau sudah begitu, apa yang kita harapkan berbuah dari pendidikan akan nyata berbuah. Namun kalau kita tidak bisa menerapkannya, jangan harap akan ada kemajuan di bangsa kita. Pembangunan bangsa tidak hanya perlu dana, namun perlu juga mental yang kokoh dari masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-3343785209485724646?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/3343785209485724646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=3343785209485724646' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/3343785209485724646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/3343785209485724646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/geng-konyol.html' title='Geng Konyol'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-6689348023229049553</id><published>2007-12-18T22:47:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T22:52:22.009-08:00</updated><title type='text'>Membedah Kerusuhan Mei 1998</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Saya menuliskan topik ini untuk menyatakan pembelaan saya terhadap semua korban kekejaman tragedi kemanusiaan yang mencoreng wajah Indonesia ini. Pada paruh awal bulan Mei tahun 1998, kericuhan disertai anarkisme mulai merebak secara nasional dan tampak terstruktur. Dimulai dari daerah Sumatera dimana kekerasan dalam skala kecil mulai memamerkan dirinya, dan akhirnya menjalar sampai ke ibukota negara, DKI Jakarta. Kasus demonstrasi mahasiswa saya akui adalah sebuah momentum mencapai integrasi iklim demokrasi yang saat itu amat diserukan. Sejauh demonstrasi tersebut aman terkendali, tentunya keadaan tidak akan beranjak pada kehancuran seperti yang kita ketahui bersama. Namun hal yang ditakutkan adalah adanya provokator yang memanipulasi para mahasiswa untuk bertindak anarkis dan memicu warga sipil untuk ikut dalam “aksi brutal”. Jujur saja, saya merasa tersinggung untuk meratapi kenyataan yang mengerikan tersebut. Kasus perampokan besar-besaran, pembakaran mobil milik orang lain, dan pemerkosaan terhadap wanita-wanita keturunan Cina (Tionghua) merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak termaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar lewat pengalaman pribadi paman saya yang ketika itu terjebak dalam situasi kerusuhan tersebut, bolehlah saya membagikan pengalaman ini di sini. Kala itu, paman saya untungnya tidak terjebak di lalu-lintas jalan protokol yang notabene dikuasai massa dalam jumlah besar. Paman saya dengan mobil yang ditumpanginya dicegat di sebuah jalan biasa yang keadaannya juga ricuh dan tak terkendali. Kala itu, untungnya mobil paman saya dikendarai oleh seorang sopir bersuku pribumi asli sehingga mereka tidak dikasari. Paman saya merasakan ketakutan yang begitu dalam namun ia sempat bersyukur karena Tuhan masih melindunginya dari bahaya. Saya berpikir bagaimana kalau paman saya yang mengendarai mobil itu. Mungkin saja ia akan mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi kesaksian dari orang tua teman saya yang memutuskan untuk pergi ke luar kota karena merasa tidak aman terus-menerus berada di Jakarta. Sepanjang perjalanan, orang tua teman saya tersebut tiada hentinya berdoa dan memeluk anaknya yang masih kecil untuk saling menghangatkan. Jujur, ketakutan dan kekhawatiran tidak terelakkan, apalagi teman saya masih duduk di kelas 2 SD pada saat tragedi tersebut terjadi. Pada saat mobil yang mereka tumpangi serasa melewati jalur yang benar, mereka secara tidak sengaja bertemu kerumunan “perusuh” biadab, maka secara tiba-tiba timbul satu inisiatif dari orang tua teman saya itu. Daripada mobilnya dirusak dan mereka dikasari, ia memilih untuk membuang uang Rupiah berjumlah ratusan ribu lewat kaca jendela. Bisa saya rasakan bagaimana perasaan seorang ibu kala itu menghadapi situasi antara ya dan tidak, juga antara selamat atau tidak. Namun untungnya, para perusuh yang berwajah seperti besi berkarat itu mudah saja terkecoh oleh Rupiah yang bersinar. Apa ini karena mungkin mereka belum pernah melihat uang dalam jumlah besar? Apapun itu, dari sini kita bisa melihat kalau para pelaku dalam kerusuhan Mei 1998 adalah orang-orang yang “tidak sekolah” dan tidak intelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang tidak terlupakan adalah saat para perusuh secara besar-besaran menjarah pusat perbelanjaan Slipi Jaya, Jakarta-Barat. Mereka berusaha membobol pintu masuk namun ternyata tidak 100% mereka berhasil. Mereka hanya berhasil membuat sedikit ruang antara pintu dan ruangan-ruangan di Slipi Jaya tersebut. Dengan brutal dan tanpa rasa kemanusiaan, mereka mengambil apa saja seolah dalam keadaan “SEMUA BARANG GRATIS”, mereka tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan warga keturunan Cina yang mati-matian mengumpulkan uang untuk membangun usaha. Namun di balik kebusukan itu, para perusuh yang beraksi di Slipi Jaya ini kena batunya. Entah siapa, pokoknya ada seseorang yang mengunci pintu Slipi Jaya tersebut dan membakar dengan penuh kemarahan seisi pusat perbelanjaan itu sehingga “tawa di atas penderitaan orang lain” yang mereka miliki sejenak berubah menjadi “tangis ketakutan” menghadapi kenyataan yang mengerikan ini. Apakah ini merupakan suatu balasan yang adil? Tentu saja belum. Masih banyak sekali kebusukan perusuh yang seolah berkata, “Wahai negeri Tiongkok, lihatlah keadaan manusia-manusia yang serumpun denganmu di Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup sampai di situ saja, lewat sebuah rekaman video yang saya dapatkan dari negara Taiwan, saya melihat betapa kejamnya para perusuh yang dengan begitu ringannya menjungkirbalikkan mobil, menghantam mobil dengan kapak, juga merampas toko-toko yang memiliki persediaan barang. Saya juga melihat betapa banyaknya mayat manusia yang sudah gosong karena dibakar, saya juga melihat bagaimana wajah-wajah bodoh para perusuh yang justru merasa aji mumpung lewat kejadian ini. Fakta menunjukkan bahwa masyarakat keturunan Cina yang paling banyak menjadi korban. Saya mencium adanya aroma iri hati dari kaum pribumi yang sudah “terjajah” di negerinya sendiri sejak zaman penjajahan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu, masyarakat pribumi selalu berada di lapisan bawah sedangkan masyarakat keturunan Cina menduduki posisi yang strategis dalam strata kemasyarakatan karena mereka mampu membantu pemerintah Indonesia untuk mendongkrak kemajuan ekonomi lewat perdagangan yang begitu ampuh menyerap tenaga kerja dan menghasilkan pajak. Salahkah bila saya mengatakan kenyataan ini? Harus saya akui dari hati yang terdalam kalau masyarakat keturunan Cina selalu berusaha keras untuk mencukupi kehidupannya dari masa ke masa. Mereka tidak pernah mau berpangku tangan karena malu terhadap orang lain di sekitar mereka, sampai-sampai kulit jeruk saja mereka jadikan sebagai manisan yang bernilai ekonomis. Kelihatan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu kejahatan kemanusiaan yang sungguh-sungguh biadab adalah kasus pemerkosaan terhadap wanita keturunan Cina. Saya ingin tanya, sebenarnya warga keturunan Cina punya salah apa hingga diperlakukan seperti itu? Apa karena mereka lebih berhasil dan lebih pandai? Atau bagaimana? Apakah para perusuh pantas untuk menelanjangi wanita-wanita keturunan Cina, menyuruh mereka menari bugil untuk mempermalukan diri sendiri, menggagahi mereka dengan brutal, lalu membunuh mereka dengan keji? PANTASKAH? Sebaiknya mulai sekarang dan seterusnya, kita semua warga Indonesia menggunakan otak kita ketimbang hasrat sesaat kita yang bisa mencelakakan orang lain. Bayangkan saja bagaimana bila kita berada di posisi korban, bayangkan saja bagaimana rasanya cita-cita kita dihancurkan oleh orang-orang tolol dan seperti sampah berjalan itu. Berkali-kali sudah saya berdebat dengan masyarakat pribumi, dan ternyata dugaan saya benar, mereka cenderung emosi bila kalah dalam berbicara, mereka juga menganggap dirinya sebagai yang terbaik dan merasa tidak perlu belajar lagi. Kalau sudah begini, Indonesia tidak akan maju sampai kapanpun. Di bawah ini saya sajikan sebuah kutipan mengenai kejahatan kemanusiaan ini dari RADIO NEDERLAND, Belanda yang juga meletakkan kepedulian mereka kepada para korban.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Berikut kutipan aslinya:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Indonesian from Chinese ethnic and women are helpless and easiest targets. Tens or perhaps even hundreds of Indonesian Chinese ethnic women had became victims of sexual harassment and rape which took place while their homes or shops were torched and looted during May 13 and 14 riot in Jakarta. So evil the perpetrator were, it seemed that they had lost their humanity.&lt;br /&gt;The victims were not only harrassed or raped, but some also strangled and killed. Some endures very serious mental disorder. Considering victims trauma and fear to reveal what had happened, volunteer workers took proactive actions, by searching for victims, visiting hospitals, and establishing hotlines. So far, this team had identified about 50 cases. Each day, around two dozens women called their hotlines. Below are some harrassment and rape cases identified by Women Division, the joint group of volunteers from various caring organizations, as told by their coordinator, Ita Nadia. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;While workers were heading home after work on a bus, passangers were sorted out. The Chinese ones were forced to leave the bus, undressed and walked in line. Then they were led to grass plain where they were sorted out again. Good looking ones were raped.&lt;br /&gt;Meanwhile the rest were forced to walk around naked. Another modus, Chinese women were undressed by a crowd on the street, then groped. We had found torn nipples and bruises all over the body. Then there are bank employees. Ten men entered a bank and closed it. The Chinnese employees were forced to dance around naked. Also there's three daughters of a poor Chinese family were raped. They were 10 to 18 years old, raped by seven men somewhere in North/West Jakarta. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Next is a family which the victims' elder sister reported to Ita Nadia that her two sisters were raped in the third floor of their home by seven men. After that, the two girls were pushed into the burning second and first floor, to their deaths. Those were some cases. Other cases, usually the women were rapen and strangled. But there's also some that commit suicide when raped. The victims were not only raped vaginally, but also anal, followed by vagina mutilation. It happened so sistematically, it can't be done by ordinary people. Politically, I wanted to say these were done to show," If you want reform, this is a price you pay. And it is by sacrificing Chinese ethnic, in this case women were targeted to build up terror or fear in society to intimidate people. So they pick Chinese ethnic and women and non Moslem because they are the weakest."&lt;br /&gt;Volunteer team for humanity, Women Division, were in fact a bigger volunteer team for humanity led by Romo (Father) Sandyawan. The team had identified riot death toll up to 1,333. Now we are really angry because women had became target or object to intimidate people using sexual violence. This is a state violence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RADIO NEDERLAND: What message would you like to relay to victims which untill now have not or dare not reveal what had happened to them? ITA NADIA: Please, don't be afraid because breaking the silence is building awareness. Victims can directly called our hotline 021-790 2xxx or 021-790 2xxx. We will keep victims and informants anonymous. And to the world, support us. Support in campaign to condemn what had happend. Above all else, they were discriminated, previously discriminated by the government, and now they are being sacrificed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, ini terjemahannya:&lt;br /&gt;Penduduk keturunan Cina dan terutama wanita tidak tertolong dan merupakan target yang termudah. Puluhan bahkan ratusan dari mereka telah menjadi korban pelecehan seksual dan pemerkosaan yang mengambil tempat di rumah atau toko mereka yang dibakar dan dijarah selama kerusuhan 13-14 Mei di Jakarta, jadi iblis telah merasuki diri pelaku kejahatan dan mereka telah kehilangan rasa kemanusiaan. Korban-korban tidak hanya dilecehkan dan diperkosa, namun ada juga yang dibunuh. Beberapa diantara mereka mengalami gangguan mental yang serius. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Menyadari bahwa korban merasa trauma dan takut untuk mengungkap apa yang telah terjadi, relawan mengambil langkah pro-aktif dengan mencari korban-korban, mengunjungi rumah sakit, dan menyediakan hot-line/jalur telepon. Sejauh ini, tim ini telah mengidentifikasikan sekitar 50 kasus. Per hari, sekitar 2 lusin wanita menelepon. Di bawah ini adalah kasus-kasus yang telah teridentifikasi oleh sebuah organisasi sosial wanita. Dalam perjalanan pulang selepas kerja, satu wanita etnis Cina dipaksa meninggalkan bus dalam keadaan tanpa busana dan berjalan. Lalu mereka akan dibaringkan dan diperkosa. Ada juga kasus seorang karyawati bank yang dipaksa menari bugil dan diperkosa oleh 10 orang pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada 3 anak perempuan berusia 10-18 tahun yang diperkosa oleh 7 pria di Jakarta. Selanjutnya adalah 2 kakak-beradik yang menjadi korban perkosaan di lantai 3 rumahnya oleh 7 orang pria. Setelah itu, mereka berdua dibawa ke lantai 2 dan 1 untuk dibakar hingga tewas. Ada juga kasus lain saat beberapa wanita dicekik dan diperkosa, beberapa dari mereka memutuskan untuk bunuh diri saat diperkosa. Korban-korban ternyata tidak hanya diperkosa dengan kegiatan seksual biasa, namun mereka juga dipaksa melakukan anal-seks diikuti dengan pemotongan vagina. Ini terjadi dengan amat sistematis dan tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. Korban jiwa dari kericuhan ini diperkirakan berjumlah 1.333 orang dan bisa terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Bisa kita lihat sendiri bagaimana kebusukan perusuh di Indonesia yang jelas-jelas sudah mencorengkan arang di muka bangsa, terlebih menorehkan sebuah luka terdalam bagi korban-korban dan keluarga mereka. Betapa rendahnya para perusuh yang tega melakukan hal keji seperti itu layaknya manusia tanpa otak. Saya hanya berbicara menurut fakta dan tidak mau menutup-nutupi kebencian saya lewat kata-kata manis, saya hanya ingin mencoba berterus terang karena saya tahu kalau banyak orang yang sebenarnya ingin berterus terang namun tidak berani. Tindakan pelecehan terhadap seorang manusia yang perusuh lakukan mencerminkan kebodohan dan ketertinggalan mental dari orang Indonesia dari bangsa-bangsa lain yang sudah jauh berada di garis depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam negeri, kita juga mempunyai laporan yang terkait. Begini isinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernas - Kamis, 09 Juli 1998&lt;br /&gt;Yogya, Bernas Pemerkosaan terhadap perempuan keturunan Cina tidak hanya terjadi bersamaan dengan kerusuhan 13-14 Mei di Jakarta, melainkan terus berlanjut pada masa-masa berikutnya. Kasus terakhir dengan pola sama, tercatat terjadi pada 20 Juni dan 2 Juli 1998. Selain itu, tampak pula upaya-upaya untuk membungkam, meneror, bahkan menghilangkan korban-korban perkosaan itu, agar tidak memberi kesaksian kepada publik. Salah satu korban, bahkan sempat dicatat identitasnya dan diintimidasi agar tidak buka mulut. Fakta ini dikemukakan Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Romo Sandyawan Sumardi SJ, yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Sandy, dalam perbincangan terbatas di Universitas Sanata Dharma, Rabu (8/7). Kepadanya pula, para korban meminta pendampingan, untuk meringankan beban jiwanya atas musibah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanggal 2 Juli lalu sekitar pukul 13.00 siang, di Sunter Hijau, ada seorang gadis mahasiswa Untar, dari suku Tionghoa diperkosa di tempat kosnya oleh serombongan lelaki berbadan tegap. Waktu itu ia sedang istirahat siang sendirian. Tapi ia berusaha berontak, dan bisa melepaskan diri," kata Romo Sandy. Karena melawan, kawanan lelaki itu menganiayanya. Ia jatuh dari ranjang, dan perutnya disodok dengan linggis. Akhirnya linggis disodokkan kembali, sehingga rahimnya cedera. "Kabar terakhir yang kami dapat, ia mengalami operasi kedua untuk mengangkat rahimnya," papar Romo Sandy. "Kita tak tahu siapa dan bagaimana pelakunya, tetapi cara perkosaan itu dilakukan mirip sekali dengan kesaksian korban perkosaan tanggal 13-14 Mei di Jakarta. Begitu brutal," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang saudara baca banyak yang keluar dari internet duluan. Sebab banyak korban yang sudah dievakuasi ke luar negeri. Ada di Hongkong, Singapura, Eropa, Australia, Amerika. Mereka tersebar di mana-mana," tambah Romo Sandy. Selasa lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegas- kan, pihaknya yakin telah terjadi perkosaan secara masal, sistematis, biadab dan keji terhadap para wanita keturunan Cina di tengah kerusuhan 13-15 Mei di Jakarta. Karena itu Komnas HAM mendesak aparat keamanan mengusut tuntas dan menindak tegas para pelaku dan dalang peristiwa itu, (Bernas, 8/7). Romo Sandy pun menyerukan, pemerintah dan pihak keamanan untuk tidak menganggap sepi kasus perkosaan masal, kebanyakan menimpa perempuan Cina itu. Romo Sandy juga mengutarakan, pihaknya melihat ada upaya-upaya paksa dari pihak tertentu untuk menghentikan publikasi menyangkut persoalan ini. Ia mensinyalir upaya paksa dilakukan sebuah kelompok yang bekerja secara sistematis persis seperti yang terjadi dalam tragedi 13-14 Mei lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selain ada usaha nyata untuk menghentikan munculnya berita-berita ini, ada juga usaha nyata untuk melanjutkan tindakan teror yang amat mengerikan dengan perkosaan ini. Maunya apa!" tegas Romo Sandy. Maka, lanjut Romo Sandy, sangat bisa dipahami kalau para korban kerusuhan dan perkosaan itu membungkam mulut nya meski sudah banyak orang berseru, bahkan pemerintah pun secara resmi meminta agar pelaku kerusuhan itu diusut. Karena, seruan itu ternyata tak diikuti tindakan apa-apa. "Tentu para korban ini belajar dari situ, untuk apa mereka bersaksi kalau tak ada tindakan apapun. Bukan hanya malu secara publik, tapi mereka pun terancam," tutur Romo Sandyawan. Bahkan, kata dia, tampak seperti ada usaha untuk menghilangkan secara paksa para korban itu. "Terbukti korban yang dilinggis (kasus Sunter Hijau) didatangi orang tertentu berkali-kali di rumah sakit," tandas Romo Sandyawan. Ia juga menceritakan korban lain yang sempat didampinginya. Gadis keturunan Cina itu, kata Romo Sandy, digagahi tanggal 20 Juni lalu setelah 'diculik' dengan menggunakan taksi sebagai kendaraan. Gadis yang baru lulus dari London Economic of School ini akan berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Tiga hari sebelum pergi, ia sedang ada keperluan di Jalan Sudirman Jakarta. Sekitar pukul 16.00, ia naik taksi Royal City untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taksi itu seharusnya langsung masuk tol, tapi ternyata tidak. Ketika ia mencoba protes, mobil dihentikan, lalu dibuka paksa dua orang berbadan tegap yang kemudian turut masuk ke dalam taksi itu dan menyekap korban," ujar Romo Sandy menuturkan kembali kisah korban. Masih mengutip penuturan korban, Romo Sandy menceritakan, ketiga lelaki - termasuk sopir taksi - itu saling bercerita mengenai pengalaman mereka di tengah kerusuhan 13-14 Mei dengan membakar dan memperkosa cewek- cewek amoy. Malah, kata Romo Sandy mengutip pengakuan korban, satu di antara lelaki itu menceritakan pernah mengiris alat vital seorang korbannya. "Ini adalah teror yang mendalam. Karena sesudah ia dalam taksi selama dua jam putar-putar, dan selama itu ia disuruh menunduk dengan kedua tangan di belakang. Kalau lelah dan mendongakkan kepala, ia dipukul, sampai sebelas kali pukulan," ujarnya mengutip pengakuan korban. Wanita itu diturunkan di sebuah kawasan agak di luar pusat keramaian. Di atas rerumputan, ia digagahi secara bergiliran. "Pukul 02.00 dini hari, ia dinaikkan taksi lalu dibawa melaju, dan di suatu tempat diturunkan begitu saja," katanya. Sebelumnya, kata Romo Sandy, ketika di bawah penguasaan para lelaki itu, seluruh dokumen korban sempat diminta dan dicatat. Bahkan ia diinterogasi dan diancam. "Kalau melapor, maka ia akan dibunuh dan keluarganya dibakar," tutur Sandyawan lagi. "Menurut korban ini, masih ada dua temannya lagi yang kena musibah dengan modus yang sama, pakai taksi. Bahkan lebih parah, temannya ini mengalami perdarahan. Ketika ia pergi ke ginekolog, dokter itu juga sedang menangani pasien yang mengalami kasus sama," ujar Romo Sandy lagi. Karena itu, kata Romo Sandy, kalau pemerintah tetap tak responsif atas penanganan persoalan ini, maka pihaknya akan membawanya ke tingkat internasional. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Ia menilai kasus kekerasan ini sudah begitu serius, dan ini sangat menghancurkan kredibilitas bangsa Indonesia di mata internasional. Dari Jakarta dilaporkan, pemerintah membentuk Tim Perlindungan Wanita Terhadap Kekerasan. Untuk saat ini tim tersebut memprioritaskan untuk menanggulangi wanita keturunan Cina yang mengalami kekerasan dan perkosaan pada 13 dan 14 Mei lalu. Tim ini diketuai Menteri Negara Peranan Wanita kala itu, Tuty Alawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kebiadaban para perusuh di Indonesia tidak berhenti sebatas kasus Mei silam, namun kini mereka beraksi kembali. Ini mencerminkan bahwa negara kita memiliki manusia-manusia yang bebal dan bodoh karena tidak pernah merasa malu terhadap perbuatan mereka yang rendah. Mereka melakukan kejahatan semacam ini dengan keji dan tanpa merasa bersalah. Tangan-tangan mereka dipenuhi darah dan duka dari korban yang merasa tertekan bukan main akibat pelecehan atas diri mereka. Namun tahukah Anda? Para perusuh tersebut masih sempat-sempatnya menyebut nama Allah dalam menghalalkan tindakan mereka yang lebih rendah dari segala makhluk di bumi. Dan saya harus mengakui dan bersyukur bahwa masih ada orang seperti Romo Sandy yang berhati mulia dan penuh kasih terhadap sesama, walau saya sendiri pun tidak pernah mengenal beliau.&lt;br /&gt;Bacalah kutipan ini: “Ketiga lelaki - termasuk sopir taksi - itu saling bercerita mengenai pengalaman mereka di tengah kerusuhan 13-14 Mei dengan membakar dan memperkosa cewek- cewek amoy. Malah, kata Romo Sandy mengutip pengakuan korban, satu di antara lelaki itu menceritakan pernah mengiris alat vital seorang korbannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasakanlah dalam-dalam bagaimana mereka telah menginjak-injak harga diri warga keturunan Cina di seluruh Indonesia bahkan di dunia. Bagaimana kita bisa mengatakan kalau orang Indonesia itu pantas dianugerahi kemajuan dan kemakmuran dalam hidupnya bila mereka jelas-jelas tidak menghargai orang lain? Saya rasa, kemiskinan yang mereka rasakan juga merupakan sebuah balasan dari Tuhan mengingat betapa banyaknya perbuatan jahat yang mereka lakukan. Selama tidak menghargai dan menghormati hak orang lain, jangan harap akan ada kemajuan! Dan saya ingatkan satu hal kepada semua orang yang terlibat kejahatan kemanusiaan dalam tragedi Mei 1998 dan tragedi-tragedi lainnya bahwa hidup kalian selamanya tidak akan tenang. Waktu yang terus bergulir sekalipun tidak sanggup membendung rasa sakit hati para korban, dan andaikan kalian masih menganggap apa yang kalian lakukan adalah benar dan sesuai iman, ketahuilah bahwa langit dan bumi memiliki sepasang mata yang akan menghukum berat kalian pada saatnya nanti. Nantikan saja bagaimana anak cucu kalian akan menjadi korban dalam kejadian serupa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-6689348023229049553?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/6689348023229049553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=6689348023229049553' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/6689348023229049553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/6689348023229049553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/membedah-kerusuhan-mei-1998.html' title='Membedah Kerusuhan Mei 1998'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-4268283056948891570</id><published>2007-12-18T22:46:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T22:56:14.761-08:00</updated><title type='text'>Konflik dan Bakar Rumah</title><content type='html'>Konflik di tengah-tengah masyarakat bisa kita tinjau dari 2 sudut pandang. Bila kita melihatnya secara positif, kita akan menemukan bahwa konflik memang membawa konsensus-konsensus yang lebih baik lagi di masa mendatang sehingga keberadaan konflik itu sendiri jangan terlalu dipusingkan. Sah-sah saja mengatakan demikian, namun kita juga harus melihat mental masyarakat Indonesia pada umumnya. Mereka amat mudah terprovokasi dan senang bila melihat ada orang yang dikeroyoki beramai-ramai. Dengan kata lain, mental seorang putra/putri bangsa yang dimiliki mereka masih amat bobrok dan perlu perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat satu kasus yang terjadi di daerah Atambua dimana konflik antara dua dusun (desa) dipicu oleh masalah perebutan tapal batas. Permasalahan tersebut diperbesar oleh kejadian bakar-membakar rumah yang total menghanguskan 21 rumah penduduk. Menurut masyarakat, konflik ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 30 tahun lalu dan belum mencapai kata sepakat. Saya akui bahwa perebutan tapal batas merupakan konflik kepentingan antardua dusun tersebut, namun harus kita sadari bahwa perilaku orang-orang Indonesia adalah mau menang dan tidak mau menanggung malu akibat kekalahan. Padahal mereka tidak tahu kalau ada jalan lain yang lebih elegan untuk menyelesaikan masalah tanpa harus melibatkan api. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Dan parahnya lagi, tokoh masyarakat dan pemerintah setempat baru akan melakukan temu-wicara setelah warga dirugikan akibat pembakaran tersebut. Mengapa tidak dari 30 tahun lalu mereka mencari jalan tengah? Mengapa harus mengobati setelah terkena “penyakit”? Apakah premis “Lebih baik mencegah daripada mengobati” yang populer di kalangan masyarakat hanyalah omong kosong belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu hanya kita yang bisa menjawab dan memetik pelajaran dari sini, kita hanya bisa mengusahakan yang lebih baik untuk selanjutnya. Jangan sampai kita menganggap konflik antar wilayah yang kecil adalah hal biasa, karena itu bisa membuat bangsa Indonesia secara umum sulit mendapatkan kemajuan yang signifikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-4268283056948891570?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/4268283056948891570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=4268283056948891570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/4268283056948891570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/4268283056948891570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/konflik-dan-bakar-rumah.html' title='Konflik dan Bakar Rumah'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4575349337496764430.post-5954140627837893323</id><published>2007-12-18T22:44:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T22:46:35.874-08:00</updated><title type='text'>Senior-Junior</title><content type='html'>Masih belum lekang dalam ingatan kita semua tentang bagaimana pemberitaan media massa yang mengangkat tema kekerasan terhadap praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) beberapa waktu lalu. Kasus kekerasan tersebut bukan hanya melukai fisik dan mental para praja atau istilahnya “murid” di IPDN tersebut, namun juga mengakibatkan kematian. Isu ini mencuat ke permukaan karena keadilan dan rasa kemanusiaan secara perlahan namun pasti membongkar bangkai busuk tersebut. Disebutkan berdasarkan data-data dalam rentang 10 tahun belakangan (hingga 2007) sudah ada beberapa kasus kematian yang terjadi dalam IPDN yang dahulu bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam reka ulang yang saya saksikan di salah satu televisi swasta dalam negeri, saya mencermati adanya unsur senior dan junior dalam institut yang seharusnya melahirkan kader-kader profesional tersebut. Pemukulan dan pengawasan yang berlebihan dilakukan oleh para senior seolah-olah mereka adalah “Tuhan” dari junior. Para junior pun hanya bisa pasrah, mungkin karena mereka berpikir bahwa memang seperti inilah keadaan di IPDN. Coba kita pikirkan, bagaimana bangsa kita bisa tumbuh sebagai bangsa yang berhasil kalau calon-calon pemimpinnya selalu disiksa dan diajari bahwa dunia ini kejam? Bagaimana mereka bisa manusiawi kalau diperlakukan terus-menerus seperti binatang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terbatas hanya pada IPDN, ada pula kasus penganiayaan junior yang terjadi di Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) hingga menyebabkan tewasnya junior tersebut. Namun tahukah Anda, yang lebih parah lagi adalah hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku hanya 1 tahun penjara, hukuman yang terbilang amat ringan. Dan ketika ditanyai soal keringanan hukuman tersebut, ketua majelis hakim yang tidak perlu saya sebutkan namanya ini mengatakan bahwa kesalahan bukan terletak pada pelaku, namun pada sistem pembinaan yang ada di sekolah tinggi tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa majelis hakim salah, mereka telah menjalankan tugasnya meski menimbulkan pro-kontra di kalangan publik. Namun satu hal yang harus dicatat adalah bagaimana sistem yang ada di sekolah tinggi itu sendiri. Coba kita pikirkan, apakah mewarisi budaya “pukul-memukul” dari satu angkatan ke angkatan lain merupakan hal yang wajar dan bisa dibilang menyenangkan? Ingat, yang bisa mengubah sistem pembinaan bukanlah diri sistem itu sendiri, namun manusialah yang mampu mengubahnya menjadi lebih baik lagi. Tanpa adanya niat dari manusia di dalamnya, mustahil bangsa ini bisa mendapatkan pemimpin-pemimpin berkualitas, baik di eselon kecil maupun eselon besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang adalah saatnya bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk introspeksi diri dan mengakui kelalaian yang pernah terjadi. Kita tidak akan bisa mengubah masa lalu, yang bisa kita lakukan adalah mengubah tindakan hari ini sehingga memberikan hasil yang lebih baik lagi di masa depan. Buanglah jauh-jauh cara kekerasan dalam membina “anak didik” di sekolah-sekolah tinggi, apalagi yang berkenaan dengan sektor pemerintahan. Suka tidak suka, mau diakui atau tidak, manusia yang manusiawilah yang bisa merasakan bagaimana keadaan di lingkungan sekitarnya hingga pada akhirnya mampu untuk mengemban misi mulia memajukan negara tercinta Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4575349337496764430-5954140627837893323?l=majulahindonesiaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/feeds/5954140627837893323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4575349337496764430&amp;postID=5954140627837893323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/5954140627837893323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4575349337496764430/posts/default/5954140627837893323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majulahindonesiaku.blogspot.com/2007/12/senior-junior.html' title='Senior-Junior'/><author><name>majulah-indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01964943930798003535</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
