Selasa, 18 Desember 2007

Babak-Belur Gara-Gara Rp 1.000,00

Bacalah kutipan surat kabar ini,
Tito (56), juru kutip retribusi DLLAJ Kota Bogor, menderita luka parah di bagian kepalanya setelah dipukul dengan batu oleh seseorang yang diduga preman, hanya karena menolak menyerahkan uang Rp 1.000,00. saat preman itu minta uang, Minggu (21/10) siang, Tito sedang bertugas di Jalan Bina Marga, Bogor Timur, Kota Bogor. Akibat luka yang dialaminya, Tito harus dirawat di RSU PMI Bogor. Menurut juru kutip retribusi pengemudi angkutan perkotaan (angkot) tersebut, dia menolak memberi uang karena memang pada saat itu belum ada uang yang dikutipnya. Selain itu, pria tersebut minta uang untuk membeli minuman keras. “Saya mencium aroma minuman keras dari mulutnya,” katanya ketika ditemui di ruang IGD RSU PMI. Saat mau dipukul oleh pria yang dipengaruhi alcohol tersebut, Tito sempat melawan. Namun, pria itu segera mengambil sebongkah batu yang ada di sekitarnya, dan Tito pun melakukan hal yang sama. Kedua pria itu saling pukul menggunakan batu. Tetapi sial, pukulan Tito tidak pernah mengenai pria itu. Justru batu yang digenggam pria itu berhasil mengenai kepala Tito hingga berdarah.

Kita renungkan bersama-sama tentang kejadian di atas. Kita sama-sama tahu, berapa besarlah penghasilan juru kutip itu, tentunya bukan jumlah yang menggiurkan. Seorang preman yang mabuk dan “lepas” ke jalanan dengan seenaknya meminta uang, ia tidak tahu kalau orang lain juga susah mendapatkan uang. Nah, kejadian semacam inilah yang diibaratkan seperti tikus menggigit pintu, yaitu ketika pintu yang rusak masih sebagian kecil, memang tidak kelihatan, namun kalau tikus terus-menerus menggigit pintu, maka pintu akan hancur. Negara kita pun demikian. Saat virus-virus kecil berkeliaran di masyarakat, seolah-olah itu menjadi bahan berita semata karena toh tidak menghancurkan kedaulatan bangsa. Namun dari kacamata sosial, tampak jelas bahwa kejadian semacam ini adalah kejahatan yang menimbulkan korban dengan luka cukup serius. Bagaimana kalau seandainya Tito terluka amat parah hingga ajal menjemput?

Hal semacam ini perlu kita perhatikan. Hal semacam ini jelas menghambat kemajuan bangsa karena selain membuat orang malas melirik Indonesia, di dalam tubuh kesatuan bangsa ini pun sudah terjadi konflik intern, yaitu sesama orang susah saling menyusahkan. Bagaimana nasib masyarakat ke depan? Kita tunggu saja bagaimana cara mereka hidup. Namun sekedar saran, kita sebagai anggota masyarakat jangan sampai mau dikasari begitu. Kalau seandainya ada orang mabuk minta Rp 1.000,00, berikan sajalah daripada kita terluka. Setuju?

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Waduh, kenapa orang pribumi begitu tolol yah?

Unknown mengatakan...

Buset dahh!! kenapa orang Indonesia mentalnya tempe banget??

majulahindonesiaku mengatakan...

Kasihan sekali. Mengapa sesama manusia kita harus saling menyakiti? Bukankah lebih baik kita hidup dengan satu hati dan satu jiwa? Kita adalah INDONESIA yang siap untuk maju. Masa karena Rp 1.000,00 kepala harus berdarah?