Selasa, 18 Desember 2007

Jalanan Ini Punya Babe Gue!!

Saya punya hobi mengelilingi kota, terutama dengan kakak saya. Kami berdua sering mengendarai mobil dan mengunjungi tempat-tempat seru di Jakarta. Setiap kali pergi, saya selalu membawa kertas dan pensil untuk mencatat kejadian-kejadian penting yang menjadi bahan inspirasi buat saya dalam menulis. Satu masalah yang selalu saya temui di jalanan adalah perilaku orang-orang yang tidak tahu dimana mereka berada. Bayangkan saja bagaimana seorang anak muda berusia 20an tahun dengan santainya berjalan di tengah jalan besar sementara kami mengklakson dan ia tidak menghiraukan. Saya tahu, mayoritas masyarakat di DKI Jakarta, terutama yang tersebar di jalan-jalan adalah pribumi asli. Namun apakah itu menjadi jaminan bahwa mereka boleh seenaknya di jalanan? Kalau seandainya mereka tertabrak karena kesalahan mereka sendiri, saya jamin pengendara mobil, apalagi seorang keturunan Tionghua pasti dikasari dan dimaki-maki, selain dimintai uang ganti rugi dalam jumlah besar, padahal ia tidak bersalah.

Tengok saja bagaimana kelakuan sopir angkot di jalan. Mereka itu memiliki kelakuan yang amat seenaknya. Mereka tidak menghiraukan pengendara lain, dan dengan santainya bisa memberhentikan angkot mereka dimana saja mereka mau. Kalau ada kejadian, dalam arti kecelakaan karena masalah ini, apakah para sopir angkot mau disalahkan? Kita bisa jawab sendiri, mereka tentu saja tidak mau, malahan mereka menuding balik. Ada lagi kasus segerombolan anak-anak kecil yang bermain seenaknya di jalanan sementara mereka tidak mengetahui kalau ada risiko besar yang menghantui mereka, yaitu kecelakaan. Dalam hal ini, siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Jawabannya adalah orang tua mereka sendiri. Orang tua mereka dengan tenangnya membiarkan anak-anak bermain di jalanan, dan terkadang malah berharap anaknya ditabrak mobil sehingga mendapatkan uang ganti rugi. Kalau sampai anaknya mati, yah mati saja, toh masih ada banyak anak lainnya. Beginilah mental orang Indonesia, terutama yang menetap di perkotaan. Saya bukan memfitnah mereka, namun saya mengalami sendiri bagaimana keadaan lalu-lintas yang sering diwarnai dengan kecelakaan-kecelakaan bodoh yang disebabkan kelalaian manusia, saya saksikan sendiri bagaimana ricuhnya keadaan lalu-lintas yang diwarnai oleh tindakan-tindakan konyol dan tak bertanggung jawab.

Sudah selayaknya para orang tua lebih memperhatikan anaknya. Jangan sampai anak-anak dibiarkan tumbuh dalam pergaulan jalanan yang tidak selamanya baik, yang malah cenderung berisi hal-hal negatif. Kalau yang ada sekarang berlangsung terus-menerus, saya justru mencium adanya indikasi dari para orang tua tidak bertanggung jawab itu untuk membiarkan anak-anaknya bergaul di jalanan dan mencari uang dengan mudah, seperti mencopet di lampu merah ataupun menjadi penjahat jalanan, yang penting banyak uang. Muka bangsa Indonesia akan tercoreng sekali di mata dunia bila ada warga negara asing yang menjadi korban. Hanya karena tindakan “parasit” beberapa oknum, bangsa kita menjadi jelek.

Dan dari kejelekan yang satu biasanya akan muncul kejelekan-kejelekan lainnya. Jadi untuk para orang tua, perhatikanlah anak-anak kalian dengan lebih cermat, rawatlah mereka dengan baik, dan ajarkanlah kepada mereka pendidikan budi pekerti yang baik, karena lewat pendidikan budi pekerti yang baik, seseorang akan disenangi sehingga pada akhirnya bisa berkarya dan menghasilkan uang halal lewat bantuan orang lain. Kalau sudah begitu, tiket untuk keluar dari kemiskinan sudah semakin dekat. Berjuanglah!

Tidak ada komentar: