Selasa, 18 Desember 2007

Solusi Terdepan Memajukan Bangsa

Jujur saja, kalau orang Indonesia tidak mempunyai niat yang kuat dari dalam hati untuk berubah menjadi lebih baik, kemajuan bangsa tidak akan pernah tercapai. Namun karena saya percaya bahwa di kegelapan sekalipun ada setitik cahaya, saya harus mengatakan kalau seandainya kita mau maju, kita harus menghilangkan budaya kekerasan dan “senior-junior” dalam segala sudut kehidupan, baik dalam kehidupan sosial biasa maupun di berbagai eselon lainnya. Namun ini bukan berarti kita boleh bertindak kurang ajar terhadap yang lebih tua. Sebisa mungkin sikap toleran kita kembangkan, kita jadikan bahasa sehari-hari supaya perdamaian bisa terwujud antarmanusia. Gaya kehidupan yang lu lu gue gue juga harus kita pandang sebagai penghalang kemajuan, karena itulah kalau boleh, kita sepantasnya peduli dengan sesama kita. Budaya permisif dan acuh tak acuh memang sudah merasuk ke dalam sendi-sendi orang Indonesia, namun kalau kemauan diteguhkan, niat dikuatkan, kita akan mampu untuk melakukannya, kita akan maju.

Kedua, kita juga harus sadar diri. Jangan cuma bisa iri hati sedangkan kita sendiri tidak berbuat apa-apa. Ingat, sirik atau iri hati adalah tanda tak mampu. Apakah kita tidak malu pada diri kita sendiri kalau terus-menerus begini? Kalau 200 juta penduduk di Indonesia, atau setidaknya 50% saja mau kerja keras, bangsa kita akan menjadi bangsa yang tidak terkalahkan di dunia. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan ratusan juta orang di negeri ini dalam membangun segala sektor. Namun sayangnya, justru yang selama ini salah adalah kita kurang mau bahkan tidak mau kerja keras, kita mau cari yang gampang saja. Kalau bertahan hidup dari segi ekonomis itu membutuhkan perjuangan, kita pun dituntut untuk berusaha, bukan berdiam diri. Kalau sama sekali tidak ada usaha, siap-siap saja untuk menderita. Toh kesuksesan atau keberhasilan itu bukan ditentukan takdir, tapi ditentukan oleh upaya-upaya kita. Sikap anarkis juga harus disorot. Kenapa kita ini mudah sekali terprovokasi? Kenapa kita tidak bisa menyelesaikan masalah baik-baik? Apa karena kita kelaparan dan penuh iri hati sehingga ada masalah sedikit saja langsung main pukul dan main bakar?

Untuk masalah HAM juga demikian. Selama ini dunia internasional gigih memperjuangkan HAM. Namun sebagai bangsa beradab di dunia, mengapa kita tidak bisa menghargai HAM orang lain? Mengapa kita selalu merasa bahwa kebebasan berekspresi, kebebasan berkarya orang lain, terutama untuk warga keturunan Cina adalah salah? Mengapa kita masih saja menganggap perbedaan sebagai suatu kejahatan? Tragedi Mei 1998 sudah cukup untuk mewakili jerit tangis Indonesia, kejadian tersebut sama sekali tidak ada sisi positifnya meski banyak pernyataan populer bahwa segala macam hal dapat dilihat dari 2 sisi, namun untuk masalah ini yang ada hanyalah kebiadaban dan kebiadaban. Apakah kita berpikir bahwa kasus yang kini tidak dibahas secara lugas ini sudah selesai? Nyatanya belum. Masih ada luka batin mendalam bagi seluruh korban.

Jujur saja, sekarang keadaannya sudah kepalang basah, tragedi itu sudah menjadi masa lalu kelam yang tak bisa diubah. Menghapus dosa akibat perbuatan keji tersebut adalah mustahil. Satu-satunya hal yang bisa kita perbuat adalah berjanji untuk tidak mengulangi kejahatan HAM selama-lamanya. Tunjukkan bahwa kita, tanpa kecuali berkomitmen untuk menegakkan HAM seperti yang kita seru-serukan dalam demonstrasi pada umumnya. Satu hal lagi, kita juga harus tahu terima kasih. Janganlah kita hanya bisa menuntut, kita harus saling mengerti karena manusia adalah unik adanya. Kalau kita tahu berterima kasih, keuntungannya amat banyak dan kita bisa menjadi makhluk yang lebih bahagia. Hati bersih, pikiran bersih? Itulah yang harus kita capai. Mudah-mudahan, untuk ke depannya dunia pendidikan dan sosial-kemasyarakatan di Indonesia bisa dipenuhi dengan rasa saling mengerti, menghargai, dan menomorsatukan konsensus yang baik. Biarkanlah geng-gengan tetap ada, namun kita harus ubah arah dan tujuan mereka supaya menjadikan perdamaian sebagai dasar.

Kalau judulnya sudah damai, bisa-bisa malah geng-gengan tersebut membantu tugas kepolisian untuk menjaga keamanan negara. Dan terakhir untuk kasus KDRT, kaum hawa dalam hal ini harus lebih selektif dalam memilih pasangan hidup, jangan mudah termakan janji-janji manis. Maaf bila saya keluar garis sedikit dari topik sosial, cinta itu sama sekali tidak dibuktikan lewat pukulan penuh amarah. KDRT harus kita selesaikan karena pada dasarnya pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk hidup dalam kemerdekaan.

Tidak ada komentar: