Konflik di tengah-tengah masyarakat bisa kita tinjau dari 2 sudut pandang. Bila kita melihatnya secara positif, kita akan menemukan bahwa konflik memang membawa konsensus-konsensus yang lebih baik lagi di masa mendatang sehingga keberadaan konflik itu sendiri jangan terlalu dipusingkan. Sah-sah saja mengatakan demikian, namun kita juga harus melihat mental masyarakat Indonesia pada umumnya. Mereka amat mudah terprovokasi dan senang bila melihat ada orang yang dikeroyoki beramai-ramai. Dengan kata lain, mental seorang putra/putri bangsa yang dimiliki mereka masih amat bobrok dan perlu perbaikan.
Saya melihat satu kasus yang terjadi di daerah Atambua dimana konflik antara dua dusun (desa) dipicu oleh masalah perebutan tapal batas. Permasalahan tersebut diperbesar oleh kejadian bakar-membakar rumah yang total menghanguskan 21 rumah penduduk. Menurut masyarakat, konflik ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 30 tahun lalu dan belum mencapai kata sepakat. Saya akui bahwa perebutan tapal batas merupakan konflik kepentingan antardua dusun tersebut, namun harus kita sadari bahwa perilaku orang-orang Indonesia adalah mau menang dan tidak mau menanggung malu akibat kekalahan. Padahal mereka tidak tahu kalau ada jalan lain yang lebih elegan untuk menyelesaikan masalah tanpa harus melibatkan api. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Dan parahnya lagi, tokoh masyarakat dan pemerintah setempat baru akan melakukan temu-wicara setelah warga dirugikan akibat pembakaran tersebut. Mengapa tidak dari 30 tahun lalu mereka mencari jalan tengah? Mengapa harus mengobati setelah terkena “penyakit”? Apakah premis “Lebih baik mencegah daripada mengobati” yang populer di kalangan masyarakat hanyalah omong kosong belaka?
Tentu hanya kita yang bisa menjawab dan memetik pelajaran dari sini, kita hanya bisa mengusahakan yang lebih baik untuk selanjutnya. Jangan sampai kita menganggap konflik antar wilayah yang kecil adalah hal biasa, karena itu bisa membuat bangsa Indonesia secara umum sulit mendapatkan kemajuan yang signifikan.
Selasa, 18 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar